
Begitulah dia berlalu, teater kita, dari
satu hal ke yang lain. Apa yang akan kita temui di depan kita?
Ini sulit untuk dikatakan, sejak penulis drama kita terbebaskan
dari berbagai aturan yang telah ada sejak sebelum tahun 1970an,
menjadi sulit untuk diperkirakan apa yang ada di depan kita. Hanya
satu aturan yang terlihat mempunyai pengaruh yang kuat akhir-akhir
ini, yaitu bahwa tidak ada aturan-aturan yang keras dan cepat.
Tetapi dengan kebebasan datang pertanggung-jawaban yang besar,
khususnya kepada para penonton, yang keterbukaan pemikirannya
masih belum terasuh (Jit 1979, 8 April)
Dalam sebuah lingkungan sosial seperti Malaysia, dimana berbedaan
kebudayaan (suku, agama, dan bahasa) yang ada mempunyai hubungan
berbagai tingkat dengan negara, berbicara tentang pertunjukan drama
sebaiknya juga mengaitkannya dengan kebijakan sosial ekonomi dan
kebudayaan yang menghasilkan kegiatan yang dominan dan menimbulkan
perbagai sangkaan. Sebagai contoh, kegiatan yang dianjurkan oleh
negara (ditujukan untuk mengurangi perbedaan distribusi pendapatan
antara suku bangsa) dan penggunaan bahasa nasional dan aturannya
(dimaksudkan untuk menghindari “peng-haramjadah-an” dari bahasa
Malayu melalui percampuran dari dua atau lebih bahasa yang berbeda)
merupakan isu-isu yang muncul kembali yang menjadi topik pembicaraan
orang Malaysia. Sementara itu aspek tertentu dari kebudayaan seperti
suku dan agama di kelompokan sebagai pertunjukan yang “sensitif”
– tidak dibenarkan untuk perdebatan umum dan disensor secara ketat
ketika batasan mulai dilanggar – yang secara samar berhubungan dengan
kontroversi-kontroversi dari identitas dan kenegaraan sering tersebar
lewat internet.
Perhatian yang serius kepada masalah ini menawarkan ide-ide untuk
bercermin dan mengkaji. Tetapi tantangan untuk menciptakan pemikiran
baru di mana analisa kritis memberikan gambaran tentang sejarah
dan mengasah keahlian dalam seni literasi sangatlah jarang ditemui.
Kolom review dari koran New Strait Times yang telah lama
dipegang oleh Krishen Jit, yang berjudul Talking Drama with
Utih (Perbincangan Drama dengan Utih), merupakan salah satu
tempat di landsekap Malaysia; setiap kolom merupakan sebuah penemuan
yang membangkitkan sebuah kajian yang tidak hanya mengenai penampilan
drama, tetapi juga isu-isu yang berhubungan di seputarnya. Sayangnya,
hanya sedikit yang telah memulai ketertarikan sama dan melakukan
analisa yang mendalam. Tulisan ini membahas beberapa bagian dari
“perbincangan dengan Utih” yang telah menciptakan “penemuan-penemuan”
dengan budaya tradisional, kegelisahan modern, dan pendapat kontemporer
– sering ditemukan dari sebuah artikel – sebagai akibat dari pilihan
Krishen Jit dalam melakukan kajian.
Perbincangan Drama dengan Utih
Kritik tentang penampilan menyoroti lebih dari hanya evaluasi
tentang keindahan ke sebuah penyelidikan yang berkonteks politik
dan sejarah budaya yang menunjukan kelebihan dari kerja dan kerangkanya.
Di dalam masyarakat jamak yang telah melewati masa kolonial seperti
Malaysia, hal ini meliputi kesadaran akan pengaruh lokal dan global
yang menentukan pilihan-pilihan, tanggapan-tanggapan, dan menentukan
nilai budaya. Pertunjukan-pertunjukan langsung, menjadi tergantung
kepada kajian kritis dari rekaman sejarah dan gaungnya setelah pertunjukan.
Untuk melakukan hal ini memerlukan upaya cepat untuk menterjemahkan
sesuatu yang sifatnya hanya sesaat menjadi sebuah dokumentasi yang
tahan lama dan mampu memberikan beberapa pandangan, rasa dari pertunjukan
itu serta kepentingannya.
Perbincangan Drama dengan Utih adalah kolom seni dalam
bahasa Inggris di terbitan Malaysia yang terlama saat ini. Dari
tahun 1972 sampai tahun 1994, ahli teater terkenal Krishen Jit (1939-2005)
yang menulis mingguan teater dan seni di Malaysia dengan menggunakan
initial Utih – sebuah character dari drama Uda dan Dara oleh
Usman Awang, seorang guru besar Malaysia dalam bidang literatur.
Dalam drama, Utih adalah orang tua yang bijaksana dan eksentrik
di desa, yang mempunyai pandangan-pandangan terhadap kondisi manusia
yang susah dimengerti tetapi mencerminkan kapasistas mereka untuk
menstimulasi sebuah pemikiran. Utih tidak selalu mengikuti budaya
ataupun konvensi, dan sering terjadi salah pembacaan dari pemikirannya
yang radikal dan mengkritik secara keras. Dalam berbagai bentuk,
kolom Jit memiliki kesamaan.
Dalam jangka waktu tiga dekade dalam kehidupan masyarakat Malaysia
yang mengalami sejumlah perubahan yang berarti, suara dari Utih
berhubungan dengan dinamika budaya dalam masyarakat yang jamak dan
memiliki banyak pendapat yang berbeda, sementara itu juga mengamati
isu-isu tentang identitas, modernitas, literasi, dan keadilan dalam
bidang seni.1 Apakah itu teater yang mustahil2
atau opera Cina3. Jit melakukan interpretasi lokal dengan referensi
internasional dan vise-versa – dalam kebebasanya untuk mengakui
keterbatasannya sendiri dan secara persuasif tanpa menunjukkan kekuasaan.
Dia melihat perannya yang penting dari kritik-kritiknya di Broadway
dan West End, dimana kemewahan dalam pilihan berarti dapat mengambil
dan memilih sesuai dengan keinginan. Jit percaya bahwa penonton
Malaysia diharuskan untuk melakukan tugas yang terkadang sulit untuk
dimengerti oleh masyarakat lokal, seperti yang dikaraktersasikan
sebagai suatu budaya nasional yang berkembang dan patut untuk diperbincangkan
untuk kepentingan pembuat dan peninjaunya (lihat di Jit 1986: 5).
Hal ini meliputi pengamatan insting seseorang yang tidak familiar
dan meyakinkan – secara terbuka menantang kesalahan dari obyeksifitas
dan kekuasaan mutlak.
Sangatlah mengejutkan mengetahui seberapa
banyak yang bisa anda lihat dan dengar dalam sebuah pertunjukan
di mana anda tidak mengerti bahasa yang digunakan… Yang tidak
pernah mengalaminya tidak akan dapat memecahkan kode dalam melihat
pertunjukan sekali. Juga mereka tidak dapat menghargai secara
tepat nuansa apa yang terkandung dalam sebuah isyarat – dalam
mengikuti usapan lengan baju… Walaupun jika anda tidak mengerti
arti dari desahan-desahan, anda dapat menikmatinya dengan baik…
Jadi pergi menontonlah sebuah opera Cina (Cantonese), walaupun
jika anda tidak mengerti bahasa Cina (Jit 1986, 25 Mei).
Perbincangan Drama dengan Utih telah melakukan lebih dari kajian
tentang pertunjukkan-pertunjukkan. Seperti yang diperlihatkan dalam
judulnya, dia “membicarakan drama” – sebuah aktivitas di mana Jit
secara literal berpihak – mendiskusikan pertunjukkan pertunjukkan
dan juga pelaku-pelaku, polisi, dan kesulitan-kesulitan yang dialami
pada saat pembuatan, pertunjukan dan dalam mempertahankan seni.
“Percakapan” ini secara informatif berbagi batas-batas imaginasi
dan memberikan kekuatan alternatif, dan juga mempengaruhi pertunjukan
dari mereka yang “walking” dan juga mereka yang “talking.”4
Secara nyata, “drama” tersebut meluas di luar gagasan konvensional
dari pertunjukan yang dipergelarkan, meliputi pertunjukan-pertunjukan
antar-disiplinari dan bermodal banyak serta pertunjukan-pertunjukan
seni – dari komedi musikal sampai ke pembacaan puisi amatir, dari
exorcism shaman spiritual sampai ke tarian membosankan yang berulang-ulang
– masing-masing menambahkan bentuk-bentuk komposisi yang kompleks
dari budaya Malaysia. Kecenderungan Jit berubah melalui berbagai
kerangka dan bentuk-bentuk yang beragam bekerja secara bersamaan
dengan keinginannya untuk menyusun helaian yang terpisah sambil
menjamin tempat bagi setiap helai yang berbeda.
Pemikiran Jit, berdasarkan pada teori perspektif dan pengalaman
langsung, hasil dari latihannya sebagai seorang sejarawan, konsumsinya
dari berbagai bentuk seni, dan disiplin ilmu yang dipelajarinya
sendiri dalam bidang pertunjukkan. Ini sangat penting dalam menginterpretasikan
pertunjukkan-pertunjukkan di sebuah negara baru yang sedang mencoba
menumbuhkan koherensi budaya diantara berbagai suku yang ada untuk
memodernkan penduduk sambil bergulat dengan kontradiksi-kontradiksi
dari perubahan yang cepat dan ketidak-pastian. Khususnya di awal
tahun 1970-an dimana kesenian, seperti hal-hal yang lain di negara,
mengalami goncangan akibat dari kejadian Mei 1969, saat terjadinya
kerusuhan rasial antara suku Malay dengan suku Cina di ibukota negara
Kuala Lumpur yang akhirnya mengakibatkan peraturan keadaan darurat
dan revisi dramatis dari kebijaksanaan nasional tentang budaya,
pendidikan dan ekonomi.5 Kejadian penting ini membuat
Jit memutuskan untuk berhenti membuat teater dalam bahasa Inggris
dan belajar bahasa Melayu secara fasih sehingga dia dapat bergabung
dalam Teater Berbahasa Melayu atau Malay Language Theather (MLT),
sesuatu yang belum pernah dia lakukan sebelumnya.6
Pilihannya bergabung dengan MLT dan setelah itu mengembangkan
kerjanya meliputi teater multi-bahasa, sementara itu yang utama
tetap berasosiasi denagn Teater Berbahasa Inggris (ELT), menempatkan
dia di celah kebudayaan dan identitas, suatu tempat terbatas untuk
digunakan dan dinegosiasi secara piawai.
Politik dari kritikan Jit merupakan bukti dan dinyatakan secara
langsung – dia tertarik kepada keputusan lokal terhadap budaya,
menyukai percobaan-percobaan tajam dengan perbedaan, menghargai
usaha-usaha untuk membentuk hubungan antara yang umum dengan yang
susah dimengerti, dan mendukung rasa petualang dan beresiko, walaupun
jika keindahan saat pelaksanaan tidak selalu memberikan kepuasan
baginya. Tulisan ini akan memfokuskan pada tiga area penting yang
dibahas oleh Jit secara berulang-ulang dan yang tetap menjadi permasalahan
penting dalam dunia seni di Malaysia: revitalisasi bentuk-bentuk
tradisional dan rakyat lokal melalui intergrasi dengan praktek-praktek
kontemporer; mendidik secara kritis seniman-seniman lokal untuk
memperkuat profesionalitas dan memperdalam pelaksanaan, dan melakukan
adaptasi kepada perubahan sosial-politik untuk tetap berkarya dan
mendapatkan penghargaan.
Mengintegrasikan Praktek Tradisional dan Kontemporer
Apakah itu tradisional dan kontemporer, hubungan dan dampak dari
bentuk-bentuk seni sangatlah penting dan secara cepat merubah budaya.
Dalam sebuah negara berkembang setelah jaman kolonial seperti Malaysia,
kecenderungan untuk menghargai masa lalu atau obsesi dengan keadaan
sekarang merupakan hal yang akut – dan tidak membantu dalam memelihara
perhatian publik atau mengembangkan kesenian lokal. Di dalam lingkungan
seperti ini, Jit sering mendiskusikan kebutuhan akan bentuk-bentuk
tradisional dan merakyat untuk menjadi bagian dari sebuah kosa kata
kontemporer sambil tetap mempertahankan penampilannya yang berbeda.
Hal ini akan mendorong pembuatan hasil kerja yang memiliki nilai
original lokal yang diambil dari sejarah lokal sementara itu juga
memberikan respon terhadap konteks yang lebih luas. Penolakan terhadap
norma-norma penting, dengan tanpa menghirauan kehadirannya secara
dominan dan formal di masyarakat, Jit mencari hubungan antara berbagai
budaya yang berbeda (tradisional, modern, Melayu, Cina, India, Barat,
konvensional, eksperimental, budaya yang hanya dianut kelompok kecil,
kosmopolitan) yang akan menarik pendukung dan antusiasme untuk mendukung
ekspresi-ekspresi gabungan dari kolaborasi budaya yang ada.
Dalam mendiskusikan sebuah pertunjukan televisi yang tidak biasa
dari Opera Cina dalam bahasa Melayu, Jit mengemukakan isu-isu tentang
keaslian dan penterjemahan:
Akan ada beberapa orang yang mengatakan
bahwa sesuatu yang penting telah hilang dalam opera Cina ketika
dia dipertunjukan dalam bahasa lain. Sekelompok orang yang sama
telah mengeluhkan kehilangan dari sebuah seni yang terjadi akibat
transformasi pertunjukan wayang kulit dari bahasa dialek ke bahasa
standar Malaysia (Melayu). Tidak diragukan lagi, perubahan bahasa
di dalam teater atau dalam karya seni lainnya mempunyai bahayanya
sendiri dan beresiko … Anda tidak dapat bermain secara ceroboh
dengan bahasa. Opini apapun tentang pengalihan bahasa secara instan
dalam pertunjukan pasti akan mengakibatkan penyiksaan terhadap
seni. Anda dapat bertaruh pasti banyak pemikiran dan pekerjaan
yang harus dilakukan untuk melakukan transformasi dari teater
Parsi yang dilakonkan dalam Hindustani ke bangsawan Melayu yang
terjadi di akhir abad 19-an (Jit 1991, 24 Feb).
Disini Jit menarik perhatian kepada perubahan yang tidak dapat
dihindari dan hubungan isu-isu yang memberikan dampak terhadap kelangsungannya
– menghubungkan pertanyaan dari penggunaan bahasa dengan penambahan
kosa-kata dari pertunjukkan. Dia menekankan nilai dari pengaruh
yang terus-menerus oleh kejadian cross-budaya di ruangan yang merupakan
tempat bertemunya pertukaran budaya dari beberapa negara dan menyarankan
bahwa seseorang seharusnya berani dalam menghadapi adanya “resiko”.
Sementara itu mengenali tarikan yang susah untuk dimengerti dari
sejarah yang diromantisasi, Jit mempromosikan sebuah pendekatan
yang mempertanyakan legasi dari mitos dan memori dan mendiskusikan
kebutuhan akan adaptasi budaya sebagai strategy yang bagus untuk
merangkul suatu perubahan. Dia meratapi pemakaian simbol dari elemen-elemen
tradisional yang merefleksikan penghargaan yang kecil terhadap kebudayaan
dan kurangnya studi yang berhubungan dengan hal ini. Pertimbangan
Jit berfokus pada kebutuhan untuk mengintegrasikan bentuk-bentuk
tradisional dan rakyat lokal dalam praktek-praktek kontemporer.
Dipengaruhi oleh bacaannya tentang penelitian-penelitan paska-kolonial
(yang bertujuan untuk de-kolonisasi budaya dan membangun bentuk-bentuk
asli) dan teori-teori pertunjukan (yang berorientasi ke budaya global
dan kolaborasi internasional), Jit menolak opini lama tentang budaya
– sebuah kecenderungan umum dalam proces pengupayaan de-kolonisasi
identitas nasional – dan menunjukan kekhawatirannya akan pengenalan
“oriental yang lain” di bawah topeng penggabungan budaya-budaya
yang dipimpin oleh barat.
Dengan sering menyebutkan teater Indonesia sebagai contoh dari
praktek-praktek yang berpengaruh, Jit menceritakan tentang Teater
Gandrik, sebuah perusahaan yang berbasis di Yogyakarta, dan mempunyai
kapasitas untuk “secara kuat ditempatkan di atmosphere rakyat mudah
dipengaruhi” sambil “secara bebas berimprovisasi dan menggambarkan
kejadian-kejadian baru dan merupakan media pertunjukan untuk menyampaikan
ceritanya” (Jit 1990). Dia menggambarkan pertunjukan Gandrik yang
berjudul Demit pada Asean Teater Festival tahun 1990 di Singapura
sebagai “lincah dan lihay” dengan humor yang vulgar, kejam dan sering
dibuat dari sumber-sumber pop” – ini menjadi jembatan yang menghubungkan
cerita dan pesan (kutipan). Jit menjelaskan:
Gandrik mempunyai tradisi yang panjang
dan dalam waktu yang bersamaan para pelakunya mempunyai nadi pada
permasalahan populer dan kontemporer di pemikiran mereka. Tempat
mereka bermukim terletak di tempat strategis di pertemuan antara
perkotaan dan pedesaan, tua dan muda, mendukung kemampuan mereka
dalam menjembatani hal yang tradisional dan modern (Jit 1990,
tidak diketahui).
Jit secara jelas memilih untuk menyoroti kualitas dan strategi
ini dengan harapan bahwa konterpart Gandrik di Malaysia akan mencoba
untuk mendapatkan hasil-hasil yang sama.7
Mendidik Secara Kritis Artis-Artis Lokal
Di dalam sebuah negara muda yang sedang berjuang untuk berdiri
sendiri, ini mungkin akan dianggap tidak menarik untuk memberikan
kritikan kepada artis-artis yang kelihatannya lemah yang membuka
dirinya sendiri dan mengambil resiko ditolak. Tanpa proses pendewasaan
dari dialog terbuka seperti ini, artis-artis mempunyai kekurangan
akan kerangka kritis yang mengkaji kerja mereka dan memperkuat kesadaran
mereka. Keengganan untuk mengkritik juga mengabaikan tugasnya untuk
menghubungkan para pemirsa dengan pandangan politis dan mengenali
kerangka beragam dari kebudayaan, dan ini mendorong respon yang
non-pasif untuk seni. Jit menemukan hal ini sebagai “rasa rendah
diri” dan penurunan dari apa yang dapat dilakukan oleh para artis,
khususnya artis muda (Jit 1992, tidak diketahui).
Sebagai seorang praktisi dan juga pengkaji di sebuah komunitas
kecil dari para praktisi, Jit mengambil posisi yang cukup membahayakan
dengan mengkritisi kolega dan teman-temannya dalam sebuah budaya
yang tidak biasa untuk melakukan konfrontasi terbuka dan dialog
secara kritis. 8 Hal ini terkadang membuat permusuhan,
apabila posisi Jit tidak kenali sebagai bagian prinsip dari sebuah
kritik. Kee Thuan Chye, seorang teman praktisi dan kritikus adalah
salah satu dari pengecualian, dia menggambarkan bagaimana Jit “secara
virtual mecabik-cabik” hasil produksi pertamanya di tahun 1970an,
tetapi tetap mengangap bahwa “keinginan untuk menghancurkan tidak
pernah menjadi elemen dalam tulisannya (Jit) ataupun niatnya” (Kee
2005).
Walaupun Jit tidak pernah menulis tentang pekerjaan yang secara
dekat terhubung ke dia, seperti hasil kerja Five Arts Center (sebuah
seni visual dan pertunjukan kolektif yang dia danai secara parsial
di tahun 1984), dia tidak bisa dihindari terlihat sebagai bagian
dan dengan demikian dituduh telah tidak adil bagi mereka yang berada
diluar lingkaran yang diuntungkanya.9. Seperti
yang Rowland (2003) tunjukkan, posisi Jit yang tidak lazim sebagai
akademisi bi-lingual, kritikus, pembuat kebijakan, dan praktisi
mengakibatkannya dalam sebuah “validitas yang sangat tidak proposional
yang sulit untuk ditentang” (18) dan ini membawa ke sebuah suatu
rasa “sulit dimengeti atau meremehkan (dari) pandangan-pandangan
alternatif” (ibid) – makin membangkitkan kemarahan dan ketidak puasan.
Sementara itu Jit dapat menyakiti ketika dia merasa perlu untuk
mendorong sebuah batasan dan meninggikan taruhannya untuk teater,
dia hampir tidak dapat menahan pujianya ketika memang itu sudah
saatnya:
Jit Murad adalah kontemporer kita penglipur
lara, penyebar cerita tentang etika sosial dan personal kita di
sini dan saat ini, dan penembak dari syaraf-syaraf kita. Dia bersinar
dengan kehangatan saat dia menceritakan ceritanya… Canda adalah
senjatanya untuk memukul kita kedalam kesadaran kita sebagai orang
Melayu. Tetapi ini juga karena pertahanan dia, menyembunyikan
kemarahan dia terhadap ketajaman dan kekurangan dari waktu dan
usianya… Ini adalah masa pengakuan di antara kelompok tertentu,
khususnya kalangan muda dari perkotaan dan orang Malaysia yang
berpendidikan barat. Gold Rain and Haildstone (ditulis oleh Jit
Murad) yang pasti seorang bintang yang bersinar di cakrawala (Jit
1993, 28 Nov).
Hanya beberapa tahun sebelumnya, Jit telah menganggap Murad sebagai
bagian dari “suatu generasi yang hanya tertarik tentang kehidupan
dan kesenangannya sendiri” yang lebih “cool” (bergaya) dari apa
yang dia kerjakan (lihat Jit 1989, tidak diketahui).
Jit terus menulis secara jujur dan terbuka, berpendapat bahwa
sebuah negara yang sedang berusaha untuk berkembang, menjadi modern
dan kosmopolitan perlu menghiraukan ekspresi artistik secara serius
dengan bersikap kritis dan tidak takut akan ketidak setujuan dan
penentangan. Dia menarik perhatian aspirasi para praktisi yang melanggar
konvensi dan yang mencoba untuk mengangkat bentuk-bentuk asli yang
baru; khususnya dia berkerja penyoroti para artis yang bekerja di
dalam sebuah lingkungan yang secara jelas mengabaikan mereka dan
menghargai kepentingan mereka secara kecil. Dia membuat suatu pernyataan
dari melihat dan menganalisa kerja yang merupakan cerminan dari
kecenderungan (tren) yang muncul, seperti kegelisahan yang bercabang
dari perubahan rural-urban (pedesaan-perkotaan) di tahun 1970-an,
konflik identitas dari pe-modern-an di tahun 1980-an, dan ambisi-ambisi
kosmopolitan dari sebuah kemakmuran di awal 1990-an.
Dengan mengabdikan perhatiannya pada pilihan-pilihan yang diambil
dan jalan yang dipilih oleh para artis ini, kolom ini menghargai
kerja mereka sambil menempatkan mereka dalam konteks nasional. Mustapha
Nor adalah salah seorang pakar yang hasil kerjanya memukau Jit,
walaupun dari estetik dan politik yang berbeda. Tidak seperti Jit,
Nor lebih menyukai teater realis Barat dan mengabdikan tenaganya
untuk menghasilkan karya dengan gaya tersebut, tetapi Jit menilai
tinggi keteguhan dan komitmen yang dimiliki Nor dalam meningkatkan
standar teater Malaysia:
Mustapha Nor merupakan bagian dari sebuah
generasi baru yang muncul dari orang-orang teater di Malaysia.
Dari dia dan teman-temannya, teater merupakan sesuatu yang serius.
Dalam melakukannya dibutuhkan sikap profesionalisme tinggi, lahir
dari keinginan untuk menawarkan teater yang bagus untuk publik
yang berhak untuk mendapatkannya. Teater sebagai suatu sebuah-tontonan
untuk melakukan kesenangan dan merupakan hal yang menyenangkan
bagi para penonton, merupakan hal masa lalu – atau seharusnya
ditinggalkan bagi Mustapha dan teman-temannya. Saat ini ada banyak
orang lain yang membawa kekuatan yang sama dan posisi yang tidak
terkompromi terhadap kerja mereka. Tetapi hanya sedikit di antara
mereka yang mendekati teater dengan model operasi yang rasional
dan komprehensif (Jit 1974, 12 May).
Sambil menikmati aliran tenaga segar dan kreativitas yang berbeda-beda,
Jit juga mengajukan pertanyaan tentang kelangsungan dan mutu – mendesak
analisa dan pengamatan kritis yang lebih teliti dari potensi dan
penempatan dari pertunjukan. Dia berulang kali mengemukakan perlunya
untuk menyediakan kesempatan bagi para seniman untuk tumbuh, membuat
permohonan yang kuat untuk latihan secara profesional dan pembangunan
sumber daya untuk mengasuh penulis, mendidik aktor, dan meningkatkan
profesionalisme para produser. Dalam hal ini, Jit menanggapi secara
serius posisi dan pengaruh yang dia miliki di mata publik– dengan
harapan akan mendorong mereka yang berusaha untuk membuat perbedaan
sambil mendorong yang berwewenang untuk memperbaiki kondisi untuk
karya-karya seni.
Namun permasalah teater dan produksi seni tidak pernah terhenti.
Sambil menyesali kekurangan drama-drama lokal yang diterbitkan di
tahun 1970-an, Jit menulis:
Kita telah membuat sebuah budaya teater
dengan pengertian yang sangat sedikit walaupun tentang kejadian
yang baru saja terjadi. Karena kekurangan pertunjukkan yang dibuat
ini, sutradara-sutradara kita tidak dapat menguji ketahanan dari
sebuah drama yang lebih tua. Semuanya juga merupakan hal baru
bagi para pemirsa, dan cita rasa mereka diarahkan cenderung ke
yang bersifat novel… Keberadaan Noordin Hassan dan Syed Alwi menyarankan
bahwa kepandaian kita tidaklah hilang sama sekali. Tetapi akan
hilang jika para penulis kita tidak menghargai wawasan yang mereka
berikan untuk kita sendiri. (Jit 1976, 8 Agustus).
Di pertengahan 1980-an, Jit lebih prihatin bahwa:
Teater kita semakin tidak bisa bergerak
dan claustrophobic (ketakutan di tempat tertutup). Pencarian tempat
baru untuk melakukan pertunjukkan dan untuk penonton baru yang
menandai percobaan di tahun 1970-an kelihatan telah berkurang.
Teater saat ini dikurung hampir secara menyeluruh di kenyataan
yang nyaman dan berhati-hati dari auditorium terbatas… [dan] tempat-tempat
pertunjukkan monolitis… [untuk] memelihara/mendidik para pemirsa
dari kelas menengah di perkotaan… Tuhan tahu kalau teater membutuhkan
penonton yang bervariasi untuk menyelamatkannya dari hubungan
terlarang yang menggiurkan bagi kalangan teater saja (Jit 1984,
7 Jan).
Dia terus berargumen tentang para artis tidak hanya untuk mempertahankan
keberadaannya, tetapi juga bekerja keras untuk menciptakan hal-hal
baru yang berbeda.
Beradaptasi dengan Perubahan Sosial-politik
Pada masa penerbitan Perbincangan Drama dengan Utih, Malaysia
melihat perubahan-perubahan cepat dan dramatis dalam permasalahan
politik, sosial dan budayanya. Dari sebuah negara yang baru saja
mandiri, ekonomi sebagian besar pertanian di tahun 1960-an dan 70-an,
negara ini (dan khususnya di ibukotanya) menjadi sebuah negara yang
berkembang dengan cepat, berorientasi industri, menuju modern dipimpin
oleh kalangan kaya baru diperkotaan di tahun 1980-an dan 90-an.
Kebijakan yang diberlakukan oleh negara adalah liberalisasi untuk
menarik modal asing dan meningkatkan privatisasi yang mendorong
wira usaha dan diversifikasi, yang pada gilirannya akan mengarahkan
ke perubahan sosial budaya yang terlihat jelas. Di antaranya ada
hasrat untuk menghasilkan dan menggunakan modal budaya, tiruan dari
berbagai gaya hidup kosmopolitan di metropolis global, dan pendukung
dan pelindung kesenian dalam skala yang sama. Namun manajemen dan
pengalokasian dari sumber daya ini masih sangat dibutuhkan.
Pesimisme, jika tidak keputus-asaan yang
mendalam, tetap berayun apabila ada percakapan tentang perlindungan
seni di Malaysia… Ketidak-pedulian pemerintah terhadap perencanaan
dan pelaksaan rasional dari seni bertanggung-jawab secara mutlak
atas ketidak-tertarikan perusahaan dalam perkembanganya. Ketika
pemerintah melakukan upaya yang besar dalam bidang olahraga dan
memperluas pilihannya, kalangan perusahaan tertarik dengan dentaman
gendangnya. Di perusahaannya sendiri, mereka hanya akan bertaruh
untuk sesuatu yang sudah pasti… musik, khususnya yang mempunyai
isi substansial dari asing dan diimpor… sponsorship seperti ini
mempermalukan artis-artis pertunjukan lokal (Jit 1990, 5 Agustus).
Jit mendiskusikan perubahan-perubahan ini dan kebutuhan untuk
merangkul kesempatan-kesempatan yang mungkin terjadi, tetapi dia
juga mengenali kebutuhan para artis untuk meresponnya secara lebih
imajinatif. Walau Jit sangat memuji inisiatif negara untuk membangun
tempat-tempat baru dan mendanai pertunjukkan-pertunjukkan seni,
dia juga mempunyai pemikiran tajam tentang bagaimana meningkatkan
pembuatan program dan mempertahankan daya tarik. Sejalan dengan
upaya-upaya untuk menjadi sebuah masyarakat yang lebih “berkembang”
secara menyeluruh, kesenian perlu dikenali sebagai sektor penting
dalam pembangunan negara – dan tidak seperti yang dimengerti oleh
banyak praktisi dan para birokrat.10
Saat ASEAN (Asosiasi Negara-negara Asia Tenggara) membina hubungan
perdagangan dan meningkatkan pertalian politik di seluruh wilayah,
Jit menyoroti para praktisi di Asia Tenggara dan perkumpulannya
(seperti Arifin Noer di Indonesia dan MAYA di Thailand), mempelajari
kapasitas mereka untuk mengembangkan bentuk-bentuk kontemporer asli
atau efek kesadaran sosial. Untuk menghadapi keengganan lokal dan
rasa puas diri. Dia mengenali kesamaan dan perbedaan yang akan lebih
memotivasi intervensi secara politis dan tajam, dengan harapan bahwa
contoh-contoh regional seperti PETA (Asosiasi Teater Pendidikan
Philippina) akan memberikan inspirasi untuk sebuah teater yang lebih
radikal dan tidak lembut (lihat Jit 1985, 24 Feb).11
Menggaris-bawahi keperluan untuk memperluas kontak dan mengasuh
bakat, Jit juga mendorong pendidikan seni di kurikulum, mendukung
praktek seni di masyarakat, dan kemitraan antara lembaga swasta
dan publik. Hal ini akan menbantu sebuah lingkungan yang mendukung
dan prasarana yang memadai yang akan menolong kesenian untuk maju
melebihi kepuasan budaya superfisial dari sebuah tipe “pariwisata
Malaysia” dan menjamin kemajuan jangka panjang dan kelestariannya.
Drama dapat dan seharusnya dijadikan bagian
dari kurikulum sekolah. Di masa dahulu, pertunjukkan seni merupakan
bagian dari sehari-hari. Seorang anak kampung secara alami belajar
menyanyi, menari dan bermain sandiwara. Teater anak-anak dalam
pengertian modern merupakan sebuah akibat pertumbuhan dari perpecahan
budaya pedesaan. Saat ini banyak negara yang memiliki program-program
khusus di sekolah untuk memelihara rasa tertarik terhadap drama.
Hal ini bisa mempunyai banyak fungsi. Tindakan dari melakukan
pertunjukkan dalam sebuah sandiwara sendiri merupakan sebuah proses
pembelajaran (Jit 1972, 21 Jan).
Menjawab munculnya keprihatinan dari kalangan seniman, kolom ini
juga berargumentasi menentang pajak pertunjukan, sensor yang tidak
masuk akal, dan administrasi yang tidak perlu. Tulisannya adalah
suara yang berbicara atas nama para praktisi yang perjuangannya
untuk tetap bertahan sering tidak tampak di mata publik; ini merupakan
pembuka mata bagi para pemirsa yang sebagian besar tidak sadar akan
perjuangan yang dilakukan untuk menjaga agar kesenian tetap hidup
dan berfungsi:
Kita mempunyai banyak aturan tentang pertunjukan
publik sampai menjadi suatu keajaiban jika sebuah drama jadi dipertunjukkan.
Apa yang diimplikasikan peraturan-peraturan ini adalah sebuah
perusahaan teater harus mempunyai uang, dia harus mempertontonkan
drama yang aman, dan dia harus mengembangkan sumber daya manusia
dan di atas segalanya, harus pandai untuk menghadapi sebuah birokrasi
yang makin meluas. Jika anda disponsori oleh Kementrian Kebudayaan,
Seni dan Pariwisata atau lembaga kuat lainnya dan agen publik
terkenal, mereka akan melakukan kerja birokrasi untuk anda. Jika
tidak, maka anda sebaiknya mempunyai banyak uang dan pintar. Karena
itu tidaklah mengejutkan kalau Teater berbahasa Inggris, yang
merupakan perusahaan swasta, cenderung menjadi cukup elit (Jit
1993, 22 Agus).
Kesimpulan
Di tahun 1986, sebuah kumpulan dari artikel-artikel Jit tentang
teater diterjemahkan dalam bahasa Melayu dan diterbitkan dalam sebuah
buku, menyediakan dokumentasi penting hasil kerjanya dari tahun
1970-an sampai awal 1980-an. Walaupun berfokus pada MLT, Besar Bersama
Teater meliputi beberapa pemikiran Utih tentang isu-isu yang lebih
luas dan tentang pertunjukkan-pertunjukkan non-Melayu. Buku ini
tetap menjadi satu-satunya penerbitan yang berbeda di Malaysia dan
memberikan wawasan yang tak ternilai dalam jangka waktu dan tempat
tertentu.
Di kata pengantarnya, Jit mengakui keenggannya untuk terus mengkaji
setelah dia kembali di tahun 1980 dari belajar di New York, dimana
dia telah mengkonsumsi teatur dengan rakus tanpa beban dari harus
menulis tentangnya. Tetapi dia percaya kebutuhan akan dokumentasi
kritis dari media sementara dan kurangnya usaha seperti ini dalam
sebuah budaya yang lambat laun menjadi dewasa meyakinkan dia untuk
mengatasi keraguannya dan meneruskan perannya. Tahun 1992, Jit merasa
iklim telah berganti dan telah mengembangkan sebuah “kesadaran tinggi
akan kritik teater di negera ini” (Jit 1992); sehingga setelah dia
pensiun secara penuh dari kegiatan mengajar di universitas di tahun
1994, dia memutuskan untuk hanya berada di bagian lain dari para
pena para pengkaji dan mengabdikan perhatiannya untuk menyutradai
teater.
Bersikap kritis terhadap pekerjaanya sendiri yang terdahulu, Jit
menggambarkan arah dari pengkajian sebagai “tumbuh bersama dengan
teater”, saat dia menghargai kesempatan untuk belajar tentang teater
dengan menulis tentangnya. Dia mengenali kekurangan dari pandangannya
di masa lalu, dan mengkaji kajiannya sendiri dengan mata yang kritis
dan teliti. Apa yang menandai suara Utih di antara yang lain adalah
bebas luasnya materi yang dia diskusikan dan komitmennya untuk menulis
tentang teater meskipun adanya “bahaya” yang harus ditanggungnya.
Kenyataan ini menolong untuk merayakan perbedaan budaya dan keindahan
dengan melanggar batas dan menghubungkan apa yang dianggap sangat
berbeda barangkali merupakan efek yang bertahan lama dari kolom
ini di dalam sebuah masyarakat yang masih digoda oleh polarisasi
rasial dan prasangka budaya. Kolom ini berusaha melakukan hal yang
sama dengan “perbincangan dengan” yang juga penting dalam sebuah
lingkungan global yang semakin membelok ke arah suara dominan yang
hanya bisa didengar “perbincangan tentang”. Sebagai suatu hasil
dari suara Utih yang terus bergaung.
Januari adalah saatnya untuk suatu pengharapan
dan pemecahan. Sebenarnya, seorang kritikus teater Malaysia hanya
bisa melakukan sedikit hal lain. Diserang oleh masa kekeringan
yang membosankan di dunia teater yang biasanya jatuh di setiap
bulan Januari, kritikus hanya dapat beralih ke membicarakan tentang
berbagai rencana dan janji-janji untuk masa depan. Saya hanya
mempunyai satu harapan untuk tahun ini dan satu penyelesaian.
Saya ingin melihat sebuah drama yang berhubungan dengan pertanyaan-pertanyaan
mendalam tentang sosial dan politik di kesehari-harian kita… Hanya
sedikit orang teater yang sudah berpikir untuk melakukan teater
yang akan membuat para penonton duduk dan menatap diri sendiri.
Kita hidup di dekade teater yang menghibur, teater yang mahal,
teater profesional. Semua ini adalah janji, hanya sebagian kecil
yang telah berhasil (Jit 1986, 19 Jan).
|
Charlene Rajendran mengajar teater di
Nanyang Technological University, Singapura. Dia menjabat sebagai
direktur, pemain, fasilitator, penulis dan produser di Pertunjukkan
Seni Malaysia sejak masih remaja. Dan pernah bekerja di Five Arts
Center, Malaysia. Penelitiannya yang terbaru adalah mengenai politik
dalam perbedaan di pembuatan teater, sebuah topik yang berhubungan
dengan lokasi dalam pendidikan seni dan kegiatan pertunjukan di
Asia Tenggara. Dia dapat dihubungi di: charlene.r@nie.edu.sg
Kyoto Review of Southeast Asia 8 (March
2007)
© Center for Southeast Asian Studies, Kyoto University
1 Jit juga menulis
review dalam bahada Malaysia. Antara tahun 1974 dan 1976 dia menerbitkan
dalam Berita Minggu, sebuah terbitan berbahasa Malaysia, dengan
initial Alang, sebuah character dari drama Syed Alwi, Alang Rentak
Seribu (Alang dari ribuan lagu). Article teater Jit juga bisa
ditemukan di jurnal regional (contohnya Tenggara, Asian Theatre
Journal) dan publikasi seni internasional (contohnya The Cambridge
Guide to Wolrd Theatre) - menunjukkan dia sebagai seorang kritikus
yang bereputasi luas.
2 Experimental
theatre in the 1970s included the staging of plays that dismantled
some of the assumed basic values of Malaysian life, especially
Malay-Malaysian life - in particular Bukan Bunuh Diri (Malay:
Not Suicide) by Dinsman. This was seen as imitative of western
absurdist theatre wherein notions of God and divine purpose were
exposed for some of the fallacy they represented. Jit refuted
this stance by highlighting the need to read Malaysian expressions
of dissent within a cultural context that had not experienced
the angst of Post-World War II Europe. To quote Jit, “the thinking
most of them (playwrights) promote, and the thematic and emotional
thrust of their plays, hardly adheres to the basic absurd propositions.
It is not existentialism, for instance, which gives life and breath
to the local versions of the absurd. For one thing, the stance
of most of our playwrights is far more optimistic about the future…
Their religious attitudes and most importantly their certainty
about their beliefs, fundamentally alienate them from the absurd
dilemma” (See Jit 1979, 8 April).
3 Teater
percobaan di tahun 1970an yang melibatkan sejumlah drama yang
membongkar beberapa asumsi dasar nilai-nilai kehidupan masyarakat
Malaysia, khususnya kehidupan Malayu Malaysia, - contohnya Bukan
Bunuh Diri oleh Dinsman. Hal ini dilihat sebagai imitasi dari
kemustahilan teater barat yang mempunyai ide tentang Tuhan dan
keagungan tugasnya yang diekspos representasinya secara keliru.
Jit menolak pendapat ini dengan menekankan pentingnya membaca
ekspresi-ekpresi orang-orang Malaysia yang menolak dalam sebuah
konteks budaya yang tidak mengalami pengalaman kegelisahan Pasca
Perang Dunia II di Eropa. Kutipan dari Jit, “ Pemikiran kebanyakan
dari mereka (penulis drama) mempromosikan dan memberikan dorongan
tematis dan emosional dari drama-drama mereka, tidak mengikuti
proposisi absurb dasar. Contohnya, bukan existensinya yang memberikan
kehidupan dan nafas bagi versi lokal dari keabsurban. Salah satunya,
kebanyakan dari penulis drama mempunyai optimisme tinggi tentang
masa depan… Perilaku religius mereka dan yang paling penting keyakinan
mereka tentang agamanya, secara fundamental menjauhkan mereka
dari dilema kemustahilan” (lihat Jit 1979, 8 April).
4
Sementara Opera Cina Jalanan dan Bangsawan (drama satir Malaysia)
merupakan pertunjukan masyarakat yang populer di pertengahan pertama
abad 20, bentuk-bentuk ini melesu setelah munculnya televisi dan
drama modern. Dalam upaya untuk menghubungkan kembali dengan budaya
populer, Jit menggunakan kesempatan yang ada untuk membangun relevansi
dan menumbuhkan rasa ketertarikan. Ketika Opera The New York Metropolitan
melakukan pertunjukan di Kuala Lumpur tahun 1984, Jit menulis
tentang dampak yang mendalam “opera-opera lokal” kepada kehidupan
masyarakat sebelum melakukan pembahasan tentang rombongan yang
berkunjung tersebut. Dia juga mempertanyakan kesediaan para penonton
yang merogoh sejumlah uang tidak sedikit untuk sebuah pertunjukan
asing sementara itu tidak menghiraukan kehidupan dari kekayaan
lokal (lihat Jit 1984, 13 Juli).
5 The events
of May 13th severely disrupted the apparently harmonious transition
from colonial rule to self-rule and independence. What was apparent
was a serious need to build a “nation” of people who believed
in the concept of Malaysia, for all its flaws and problems, discriminatory
policies, and prejudicial politics. Whilst political disenfranchisement
and economic disparities between and within racial groups were
at the heart of the racial violence, cultural and social issues
were integral to the healing of these deep wounds. Thus the arts
had the potential to play an important role in bridging the rifts
and expressing alternative ways of being Malaysian – attempting
to transcend racial, religious, and linguistic barriers. Jit’s
column was one of the sites for doing this.
6 Jit’s passage
as a theatre practitioner was characterized by relocation and
reinvention in response to shifts in policy and social trends.
When MLT became blatantly nativist in its orientation and rejected
Jit’s participation because he was non-Malay, he moved in the
1980s towards English Language Theatre (ELT) imbued with an indigenous
sensibility, and then in the 1990s to more multi-lingual and interdisciplinary
multi-modal frames. This signaled his belief in the need to embrace
difference and his willingness to adjust to local and global changes
– a trait that marked his work throughout his more than forty-year
career in theatre – in order to remain relevant and develop work
that was resonant as director, producer, and educator. The propensity
to embrace change also made him susceptible to accusations of
being inconsistent and disloyal.
.jpg)
7 On the local
front Jit cited Azanin Ezane Ahmad and her Suasana Dance Company
as a “model for the creation of indigenized dance drama for contemporary
audiences” because “ her standards of performance are high, the
matter or story she deals with is thoroughly researched and she
uses only the most choice of indigenous ingredients of dance,
music, costumes and props. Most of all she has a sure instinct
of what will work for contemporary audiences” (Jit 1990, 28 Jan).
8 Jit described
this situation as a world “so personalized that some good critics
have been compelled to abandon it after a short stint,” as one
needed to be “pretty thick-skinned or thick-headed to continue
with this kind of work” (Jit 1992, 12 Jan).
9 Rowland (2005)
alludes to this when she writes that Jit “told me of a drawer
in his house with articles and letters accumulated over the years
which attacked him personally.”

10 Jit referred
to “a rare event…when a top government official joined the good
fight for the salvation of the arts and the artists in the country…
Tan Sri Zain Azraai Zainal Abidin, the Secretary General of the
Finance Ministry, took on the stance of the pragmatist who sought
to negotiate the best route for the arts in a grim and gloomy
landscape” (Jit 1990, 5 August). Tan Sri Zain was one of a few
government officials who understood the need to support the local
arts scene and was willing to allocate time and resources by being
a consumer and a patron.
11 Jit’s own
theatre practice in the 1980s began to include collaborations
with Singapore-based companies and artists, principally Theatreworks
and Ong Keng Sen. Whilst seen as a “betrayal” of his loyalties
to Malaysian theatre, this was also another extension of boundaries
that Jit negotiated, not being content to operate according to
simplistic polarities of “us and them.” Whilst Singapore theatre
may not have been as politically incisive in content, it was certainly
adventurous with form and enjoyed the benefits of state-supported
funding and professionally trained practitioners. In the last
few years of his directing career, Jit directed several performances
in Singapore, traveling there regularly from his home in Kuala
Lumpur.
Referensi
Awang, Usman. 1995. “Uda and Dara.” Terjemahan.
A. Amin and S. Ishak. Dalam Drama-drama Pilihan oleh Usman Awang,
223-291. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.
Dinsman. 1979. “Bukan Bunuh Diri.” In Bukan Bunuh Diri, 67-90.
Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.
Jit, Krishen. 1972, 21 Januari. “What It Takes to Build up Children’s
Interest in the Malaysian Theatre.” New Sunday Times.
_______. 1974, 12 Mei. “Miracle Worker, A Serious Approach to
Drama.” New Sunday Times.
_______. 1976, 8 Agustus. “Theatre and the Lack of Published Plays.”
New Sunday Times.
_______. 1979, 8 April. “‘Absurd’ Theatre – A Yes and No.” New
Sunday Times.
_______. 1984, 7 Januari. “Play Done the Wrong Way for the Wrong
People.” New Sunday Times.
_______. 1984, 13 Juli. “Spreading the Message of Opera.” New
Sunday Times.
_______. 1985, 24 Februari. “The Myths that Cloak our Theatre.”
New Sunday Times.
_______. 1986. Membesar Bersama Teater. Terjemahan. N.A. Shehidan.
Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur.
_______. 1986, 19 Januari. “Playwrights Shake off your Social
Apathy.” New Sunday Times.
_______. 1986, 25 Mei. “How to Enjoy Cantonese Opera When You
Don’t Know the Dialect.” New Sunday Times.
_______. 1989, tidak diketahui. “Self-absorbed Generation.” New
Sunday Times.
_______. 1990, 28 Januari. “The Need for Indigenous Dramatized
Expression.” New Sunday Times.
_______. 1990, 5 Agustus. “Funding of the Arts Should Be Top Priority.”
New Sunday Times.
_______. 1990, tidak diketahui. “Pan-Asean Performance Encounter.”
New Sunday Times.
_______. 1991, 24 Februari. “Chinese Opera in Bahasa.” New Sunday
Times.
_______. 1992, 12 Januari. “It’s a Small, Small World.” New Sunday
Times.
_______. 1993, 22 Agustus. “All Because of a Kiss.” New Sunday
Times.
_______. 1993, 28 November. “Laughter his Best Weapon.” New Sunday
Times.
Kee, Thuan Chye. 2005. Krishen Will Remain a Hero for Generations
to Come. Dikutip pada 29 April 2005, dari
http://thestar.com.my/news/story.asp?file=/2005/4/29/nation/10823938&sec=nation
Ku Hussein, Ku Seman. 2005. Krishen Jit, Teater dan Orang Muda.
Dikutip pada 25 Mei 2005, dari http://www.utusan.com.my/utusan/archive.asp?y=2005&dt=0501&pub=Utusan_Malaysia
Rowland, Kathy. 2003. “Introduction.” In Krishen Jit An Uncommon
Position, ed. K.
Rowland, 13-25. Singapura: Pusat Kesenian Asia Kontemporer
Rowland, Kathy. 2005. Icon, Guru, Beloved Friend: Berita Kematian:
Krishen Jit Amar Singh, 10 Juli 1939-28 April 2005. Dikutip 4
Mei 2005, dari http://www.kakiseni.com/articles/people/MDY2Mw.html
|