[Reed
L. Wadley mengajar di Jurusan Anthropologi
di University of Missouri-Columbia (USA). Michael
Eilenberg mengajar di jurusan Anthropologi & Ethnografi di University
of Aarhus (Moesgaard, Denmark).]
9. Kyoto:
Kyoto University Press.]
PAGE
3
berkonflik
dengan kepentingan nasional. Mereka melihat diri sendiri sebagai kaum
yang terpinggirkan dari satuan nasional yang besar, banyak Iban yang seringkali
merasakan bahwa pusat politik yang jauh tidak mengerti lingkungan khusus
hidup di perbatasan.
Keadaan yang
ambigu antara penyatuan dan pemisahan menjadi karakter khusus di perbatasan.
Dengan adanya pemisahan dua negara beserta dengan rejim administratif
dan peraturannya, perbatasan mungkin mendorong terjadinya satu “struktur
kesempatan” bagi kegiatan-kegiatan seperti penyelundupan dan imigrasi,
yang dianggap negara sebagai bertentangan dengan hukum (Anderson and O’Dowd
1999:597). Penyelundupan dan perdagangan tidak legal seringkali digambarkan
sebagai “pekerjaan di perbatasan” (Wendl and Rösler 1999:13). Contohnya,
Donnan dan Wilson (1999) mencatat bagaimana perbatasan internasional dapat
“digunakan” (baca: perdagangan) dan “disalahgunakan” (baca: penyelundupan).
Pada sisi lain, perbatasan memberikan kesempatan ekonomi dan mendorong
aliran barang dan manusia secara dua arah, namun pada sisi lainnya kegiatan
tadi juga memfasilitasi keuntungan melalui impor dan ekspor ilegal, seperti
yang sudah kita lihat dalam penyelundupan kayu dari Kalimantan Barat.
Proses yang melanggar hukum tersebut membentuk ekonomi
subversif di perbatasan (1999: 87), yang sangat penting bagi kehidupan
bagi banyak penduduk di perbatasan dan bahkan kekuatan ekonomi yang sangat
penting di sana.
Tetapi skenario
tipikal “tanah perbatasan” ini memberikan kita sebagian gambaran mengenai
Iban di perbatasan, dan itu sama sekali tidak dimengerti tanpa menghubungkan
dengan afinitas khusus yang dikembangkan Iban di Kalimantan Barat dengan
Serawak Bukan saja mereka merupakan minoritas di propinsinya sendiri,
dipisahkan dari sebagian besar populasi yang lebih besar di negara tetangga
yang mungkin lebih makmur, tetapi mereka diperlakukan khusus oleh pemerintah
kolonial dan pemerintah nasional di kedua perbatasan. Ini membuat mereka
memiliki satu ruang khusus untuk mengembangkan rasa otonomi, memperkuat
rasa keterpisahan yang muncul sangat kuat pada penduduk perbatasan. Dalam
kondisi setelah krisis ekonomi 1997 dan jatuhnya rejim Suharto pada 1998,
mungkin sangat tidak begitu mengagetkan untuk melihat peristiwa-peristiwa
yang terjadi apa adanya, mengingat pentingnya preseden sejarah.patih—menjadi
semakin independen dengan berjalannya waktu, khususnya selama terjadinya
peristiwa politik besar selama 1940-50-an. Lebih jauh, afinitas khusus
Iban dengan Serawak didukung oleh pemerintah Serawak: Pada 1882
Charles
Brooke, penguasa Inggris kedua Sarawak, tak berhasil menarik Iban dalam
kendalinya, “walaupun jika satu porsi tertentu dari tanah dekat perbatasan
tempat orang Dayak tinggal, diserahkan kepada penguasa Serawak” —adalah
satu fakta yang masih dipertahankan dalam narasi sejarah Iban.
Tidaklah mengagetkan ketika melihat Iban menekankan kepentingannya dalam
situasi khusus, walaupun itu mungkin berbahaya: Selama masa militerisasi
di perbatasan pada 1960-70 an untuk menekan gerakan pemberontakan, Iban
menolak menyerahkan senjata apinya kepada tentara Indonesia. Menuju ke
markas tentara dengan penuh ritual adat dan dipimpin oleh temenggong dan
patih, beberapa ratus orang lelaki yang kuat mengatakan kalau mereka mau
menyerahkan senjata api jika tentara berjanji membuatkan pos tentara untuk
melindungi ladang mereka dari serangan monyet dan babi. Hingga saat ini,
tiga kecamatan yang didominasi oleh Iban merupakan satu-satunya tempat
di kabupaten, atau bahkan di propinsi, warga diperbolehkan membawa senjata
api tanpa perlu ijin dari polisi setempat.
Dengan memperhatikan latar belakang tadi, dan juga dalam konteks adanya
pemerintahan yang terdesentralisasi dan polisi serta tentara yang terdemoralisasi
Referensi
American
Heritage Dictionary. 2000. The American Heritage Dictionary of the English
Language, 4th ed. Boston: Houghton Mifflin.
Anderson, James, and Liam O’Dowd. 1999. “Borders, Border Regions and Territoriality:
Contradictory Meanings, Changing Significance.” Regional Studies 33: 593-604.
Antara. 2005. Kail Sesali Sembiaran Perampasan Mobil Bukti “Illegal Logging.”
Antara New Agency, 15 January.
Baud, Michiel, and Willem van Schendel. 1997. “Toward a Comparative History
of Borderlands.” Journal of World History 8: 211-242 .
Colombijn, Freek. 2002. “Maling, Maling! The Lynching of Petty Criminals.”
In Roots of Violence in Indonesia, ed. Freek Colombijn and J. Thomas Lindblad,
pp. 299-329. Leiden: KITLV Press.
Donnan, Hastings, and Thomas M. Wilson. 1999. Borders: Frontiers of Identity,
Nation and State. Oxford: Berg.
Eilenberg, Michael. 2005. “Borderland Strategies – Fluid Borders and Flexible
Identities: A Case of the Iban in West Kalimantan, Indonesia.” Master’s
thesis, Department of Anthropology and Ethnography, University of Aarhus,
Denmark.
Equator Online. 2004a. “Tangkap Apeng, Kenapa Baru Sekarang.” Equator
Online, 9 August.
Equator Online. 2004b. “Tangkap Apeng: Masyarakat Masih Tunggu Janji Kapolda.”
Equator Online, 14 September.
Fariastuti. 2002. “Mobility of People and Goods across the Border of West
Kalimantan and Sarawak.” Antropologi Indonesia 67: 94-104.
Flynn, Donna. 1997. “‘We are the border’”: Identity, Exchange, and the
State along the Benin-Nigeria Border.” American Ethnologist 24: 311-330.
Freeman, J. D. 1960. “On the Concept of the Kindred.” The Journal of the
Royal Anthropological Institute 91: 192-220.
Jakarta Post. 2000. “Illegal Logging Rampant along Indonesian-Malaysian
Border.” Jakarta Post Online, 23 May.
Jakarta Post. 2002. “Loggers Head for Heart of Betung Kerihun National
Park.” Jakarta Post, 26 November.
Jakarta Post. 2003. “West Kalimantan Unable to Halt Illegal Logging.”
Jakarta Post Online, 18 March.
Jakarta Post. 2005. “Military Wants Battalions in Border Areas.” Jakarta
Post Online, 8 August.
Kompas. 2000a. “Malaysia Belum Tanggapi Soal Pencurian Kayu.” Kompas Cyber
Media Online, 4 July.
Kompas. 2000b. “Terdakwa Tewas Dihakimi Massa.” Kompas Cyber Media, 14
December.
Kompas. 2003a. “Operasi Wanalaga II Tahan 116 Pelaku Penebangan Liar.”
Kompas Cyber Media, June 17.
Kompas.
2003b. “Cukong Kayu Illegal Asal Malaysia Belum Tertangkap. Kompas Cyber
Media, 23 July.
Kompas. 2004a. “Empat Warga Malaysia Ditangkap Terlihat Pencurian Kayu
Diperbatasan.” Kompas Cyber Media, 11 March.
Kompas. 2004b. “Pengiriman Kayu Illegal ke Malaysia Masih Terjadi.” Kompas
Cyber Media, 28 July.
Kompas. 2004c. “Dukung Kapolda Tuntaskan Illegal Logging.” Kompas Cyber
Media, 11 August.
Kompas. 2004d. “Hutan Makin Rusak, Industri Kayu Makin Sulit.” Kompas
Cyber Media, 25 September.
Kompas. 2005a. “Wartawan TV5 dan Tim olah TKP Digelandang Massa di Pontianak.”
Kompas Cyber Media, 15 January.
Kompas. 2005b. “Warga Protes Operasi Hutan Lestari. Kompas Cyber Media,
23 March.
Kompas. 2005c. “Menhut: Masyarakat Adapt Dilarang Terbitkan Izin Penebangan
Hutan.” Kompas Cyber Media, 29 March.
Martinez, Oscar J. 1994a. Border People: Life and Society in the U.S.-Mexico
Borderlands. Tucson: University of Arizona Press.
Martinez, Oscar J. 1994b. “The Dynamics of Border Interaction: New Approaches
to Border Analysis.” In Global Boundaries, World Boundaries: Volume 1.,
ed. Clive H. Schofield, pp 1-15. London: Routledge.
McCarthy, John F. 2000. “Wild Logging”: The Rise and Fall of Logging Networks
and Biodiversity Conservation Projects on Sumatra’s Rainforest Frontier.
Occasional Paper No. 31. Bogor: Center for International Forestry Research.
McCoy, Alfred W. 1999. “Requiem for a Drug Lord: State and Commodity in
the Career of Khun Sa.” In States and Illegal Practices, ed. Josiah Heyman,
pp. 129-167. Oxford: Berg.
Media Indonesia. 2004. “Belum Ada Fakta Gangster Malaysia Kuasai Perbatasan.”
Media Indonesia Online, 25 April.
Media Indonesia. 2005. “Masyarakat Kapuas Minta Polisi Tidak Segal Kayu
Hutan Adat.” Media Indonesia Online, 29 March.
Paredes, Americo. 1958. With a Pistol in His Hand: A Border Ballad and
Its Hero. Austin: University of Texas Press.
Pontianak Post. 2000a. “400 Massa Bersenjata serang PN Kapuas Hulu.” Pontianak
Post Online, 14 December.
Pontianak Post. 2000b. “Keluarga Usnata Lapor ke Presiden.” Pontianak
Post Online, 19 December.
Pontianak Post. 2003a. “Mafia Illegal Logging, Cukong atau Aparat.” Pontianak
Post Online, 22 June.
Pontianak Post. 2003b. “Sepekan, Ratusan Truk Kayu Keluar Masuk Badau.”
Pontianak Post Online, 16 September.
Pontianak Post. 2004. “Tim Wanalaga Sita Kayu Illegal di Perbatasan.”
Pontianak Post Online, 16 March.
Pontianak Post. 2005a. “Masyarakat Perbatasan Minta Solusi Illegal Logging.”
Pontianak Post Online, 4 April.
Pontianak Post. 2005b. “Buka Lahan Sawit Sepanjang Perbatasan: Strategi
Baru Amankan Batas Malaysia-Kalimantan.” Pontianak Post Online, 10 May.
Riwanto Tirtosudarmo. 2002. “West Kalimantan as ‘Border Area’: A Political-Demography
Perspective.” Antropologi Indonesia Special Issue: 1-14.
Schendel, Willem van, and Itty Abraham. Forthcoming. Illicit Flows and
Criminal Things: States, Borders, and the Other Side of Globalization.
Bloomington: Indiana University Press.
Siburian, Robert. 2002. “Entikong: Daerah tanpa Krisis Ekonomi di Perbatasan
Kalimantan Barat-Sarawak.” Antropologi Indonesia 67: 87-93.
Sinar Harapan. 2004a. “‘Gangster’ Bersenjata Malaysia Dilarporkan Kuasai
Perbatasan.” Sinar Harapan, 22 April.
Sinar Harapan. 2004b. “Pembalakan Liar di Perbatasan Indonesia-Malaysia
(3-Habis) Hukum Lemah, Hutan pun Hilang.” Sinar Harapan, 7 May.
Sinar Harapan. 2004c. “Cukong Kayu Malaysia Masuk Daftar Buronan.” Sinar
Harapan, 29 October.
Suara Pembaruan. 2000. “Sengketa Perbatasan yang Berawal dari Berebut
Hasil Hutan.” Suara Pembaruan, 11 September.
Suara Pembaruan. 2003. “Lika-liku Praktik Illegal Logging di Kalbar: Malaysia
Makan Buahnya, Indonesia Telan Getahnya.” Suara Pembaruan, 8 August.
Suara Pembaruan. 2004a. “Mafia Malaysia Babat Hutan di Perbatasan Kalbar.”
Suara Pembaruan, 22 April.
Suara Pembaruan. 2004b. “Kapan ‘Penjajahan’ Malaysia di Perbatasan Kalbar
Berakhir?” Suara Pembaruan, 9 May.
Suara Pembaruan. 2004c. “Warga Perbatasan Diteror Cukong Kayu.” Suara
Pembaruan, 22 December.
Tagliacozzo, Eric. 2001. “Border Permeability and the State in Southeast
Asia: Contraband and Regional Security.” Contemporary Southeast Asia 23:
254-274.
Wadley, Reed L. 1998. “The Road to Change in the Kapuas Hulu Borderlands:
Jalan Lintas Utara.” Borneo Research Bulletin 29: 71-94.
Wadley, Reed L. 2001. “Trouble on the Frontier: Dutch-Brooke Relations
and Iban Rebellion in the West Borneo Borderlands (1841-1886).” Modern
Asian Studies 35: 623-644.
Wadley, Reed L. 2004. Punitive Expeditions and Divine Revenge: Oral and
Colonial Histories of Rebellion and Pacification in Western Borneo, 1886-1902.”
Ethnohistory 51: 609-636.
Wadley, Reed L., and Michael Eilenberg. 2005. “Autonomy, Identity and
“Illegal” Logging in the Borderland of West Kalimantan, Indonesia.” The
Asia Pacific Journal of Anthropology 6: 19-34.
Wendl, Tobias, and Michael Rösler. 1999. “Introduction—Frontiers and Borderlands:
The Rise and Relevance of an Anthropological Research Genre.” In Frontiers
and Borderlands: Anthropological Perspectives, ed. Michael Rösler and
Tobias Wendl, pp. 1-27. Frankfurt am Main: Peter Lang.
designed and developed by SQUEAKYSTUDIOS for Kyoto Review
All rights reserved 2006