![]() |
|
ENGLISH Michiko Tsuneda University of Wisconsin – Madison page 1
|
Pelintasan Jender: Jender dan Migrasi dalam Komunitas Muslim in Perbatasan Thailand Selatan
Migrasi dan Komunitas di Sepanjang Perbatasan “Dulu, tidak begini. Warga Malaysia datang ke sini mencari kerja. Sekarang, setiap orang pergi ke Malaysia mencari pekerjaan.” Itulah kata-kata yang saya dengar berulang kali di tempat saya melakukan penelitian, beberapa kilometer dari tempat pemeriksaan di perbatasan Thai-Malaysia di propinsi Narathiwat. Migrasi pekerja ke Malaysia, seperti dijelaskan oleh Fraser dalam karya etnografi pertama mengenai komunitas Melayu di Thailand Selatan, merupakan kegiatan musiman dan berbasiskan pertanian yang dilakukan sekelompok lelaki di desa nelayan. Setengah abad kemudian, di desa penelitian saya di dekat sungai Kolok, tidak hanya lelaki tetapi juga perempuan yang belum menikah melakukan perjalanan ke Malaysia guna mencari pekerjaan yang berjangka waktu lama di sektor jasa. Kini, banyak lelaki melihat pekerjaan mereka sebagai sampingan guna pergi dari kampung halaman sebagai satu keharusan ekonomi. Sebaliknya, para perempuan muda yang belum menikah menemukan kesempatan baru dengan cara bekerja di Malaysia. Secara khusus, melalui perkawinan, perempuan juga memainkan peranan yang cukup penting dengan cara membangun jaringan sosial yang malah mampu menembus perbatasan. Propinsi Narathiwat memiliki persentase penduduk Muslim paling tinggi di Thailand, namun juga merupakan daerah yang penghasilannya paling rendah di Thailand Selatan. Ketika banyak penduduk di komunitas dekat perbatasan terlibat dalam perdagangan di wilayah perbatasan, kurangnya
|
modal membatasi kesempatan bagi penduduk miskin, yang hanya bisa bekerja sebagai buruh dengan upah rendah dalam perdagangan yang legal maupun tidak-legal. Penduduk di komunitas saya melakukan penelitian juga mencari pekerjaan di kota perbatasan di sekitar sana, tetapi lemahnya ekonomi di sana juga menyebabkan menurunnya kesempatan lapangan pekerjaan. Beberapa dekade lalu, banyak Muslim berlatar belakang etnis Melayu in daerah perbatasan di selatan Thailand menuju Malaysia tempat lapangan pekerjaan dengan upah yang cukup tinggi tersedia. Di antara keluarga yang saya wawancarai di daerah penelitian, sekitar 70 persen memiliki satu atau lebih anggota keluarga bekerja di Malaysia, dan sekitar 20 persen yang menikah dengan warga Malaysia. Sementara hanya delapan persen dari mereka yang saya wawancarai dan berusia di atas 70 tahun memiliki pengalaman tinggal atau kerja di Malaysia, sekita 40 persen dari mereka yang berusia belasan dan dua puluhan pernah bekerja di Malaysia. Ketika hubungan sosial yang melintas perbatasan antara Malaysia dan Thailand menjadi bagian keseharian penduduk di wilayah perbatasan di Thailand Selatan, peningkatan dan perubahan pola lintas perbatasan juga merubah wajah sosial komunitas tersebut.
|
“Lebih baik di Kampung Halaman”: Lelaki dan Melintas Perbatasan Para lelaki di komunitas Muslim berbahasa Melayu di Thailand selatan memiliki kebebasan lebih dalam hal mobilitas dan pengambilan keputusan jika dibandingkan dengan perempuan. Ketika perempuan menginginkan kebebasan lebih yang tersedia bagi lelaki, banyak lelaki mengeluhkan bahwa sekarang ini perempuan mendapatkannya dengan lebih baik jika dibandingkan dengan yang mereka kerjakan. “Tidak seperti dulu. Hidup lebih mudah bagi perempuan sekarang ini,” ukar Po Surome , duda berusia lima puluhan. “Mereka dapat menjahit, dapat menjual sesuatu di pasar, dan juga dapat bekerja di dalam rumah. Tetapi lelaki tak memiliki pekerjaan [kecuali mereka meninggalkan Thailand untuk bekerja].” Berkurangnya pekerjaan dan gambaran jender ideal pada lelaki sebagai penggerak rumah tangga (walaupun bertentangan dengan kondisi aktual ekonomi rumah tangga) mendorong lelaki pergi ke Malaysia untuk bekerja. Rasa kebebasan yang mereka miliki di komunitasnya berkurang ketika mereka melintasi perbatasan nasional, dan pengalaman ini menyebabkan lelaki melihat pengalaman mereka di Malaysia secara negatif.
|
Sebagian besar lelaki paruh baya yang pergi ke Malaysia bekerja di sektor konstruksi, dan kaum muda yang berusia belasan atau dua puluhan bekerja di restoran-restoran, konstruksi dan pabrik-pabrik. Sebagian besar penduduk desa yang bekerja di Malaysia menggunakan visa turis. Biasanya mereka hanya bekerja untuk sebulan, seringkali mereka bekerja selama sepuluh atau dua belas jam sehari tanpa libur, dan kemudian kembali ke Thailand untuk beberapa hari sebelum kembali bekerja. Tidak banyak majikan yang mau membantu pekerjanya mendapatkan ijin kerja. Dengan meningkatnya kontrol imigrasi di Malaysia sejak akhir 1990-an, para pekerja hidup dibawah ketakutan akan adanya penangkapan pekerja ilegal. Rasa kebersamaan sebagai warga Thailand semakin kuat di antara anggota komunitas Muslim berbahasa Melayu di Thailand selatan, ketika mereka menyaksikan diskriminasi tarhadap “orang asing” dalam kehidupan sehari-hari mereka di Malaysia. Di tempat tinggal para warga yang bekerja di restoran di Malaysia dapat ditemukan dengan mudah majalah dan kaset musik pop Thailand. Ketika opera sabun buuatan Thailand ditayangkan oleh televisi Malaysia, para pekerja restoran tersebut berkerubung di sekitar TV dan menonton pertunjukan hingga selesai. Kadangkala mereka berbahasa Thai di antara mereka sendiri, terutama jika membicarakan pelanggan Malaysia, walaupun mereka sesungguhnya berbahasa Melayu di kampung halamannya. Para pekerja tersebut lebih menyukai majikan yang berasal dari Thailand, dan |
mereka mengatakan “Majikan dari Malaysia hanya memikirkan uang. Mereka tak mengerti kita dan masalah kami. Sebagai majikan dari Thailand, kami sama, maka mereka dapat mengerti dan membantu kami.” Warga Malaysia seringkali tidak dipercayai oleh para pekerja karena memperlakukan mereka sebagai orang asing dan tidak membantu jika terjadi penangkapan, hal yang sebaliknya dilakukan oleh majikan dari “rumah”: Thailand.
Seperti yang dikatakan dalam tulisan-tulisan mengenai pekerjaan di sektor
jasa, meningkatnya jenis pekerja ini memperlihatkan negosiasi terus-menerus
antara identitas seseorang dan emosinya. Dalam pekerjaan yang bersifat
antar-pribadi seperti restoran dan pekerjaan domestik rumah tangga, interaksi
pekerja-majikan merupakan inti dari kegiatan bekerja, yang mampu mereproduksi
hirarki yang sudah ada dan juga menciptakan jarak sosial baru. Menekankan
identitasnya sebagai “Thai” yang sangat kontras dengan Malaysia dapat
dilihat sebagai cara bagi pekerja dari wilayah penutur Melayu di Thailand
untuk tidak melihat diri mereka sendiri sebagai “pelayan” yang sangat
rendah jika dibandingkan dengan pelanggan Malaysia mereka.
|
“Saya memutuskan untuk datang karena beberapa teman menceritakan bahwa bekerja di Malaysia sangat menarik, dapat pergi ke tempat yang disukai dan mendapatkan uang,” ujar Ibrahim, koki di sebuah restoran Thai di Kuala Lumpur. “Tetapi ketika saya datang ke sini sendiri, tetapi kesenangan macam apa?…Lebih baik berada di rumah [di Thailand].” Sebelum datang ke Malaysia, dia bekerja di sebuah pabrik di Bangkok yang didapatkan karena adanya hubungan keluarga. Rekan sekerjanya di Bangkok yang beragama Budha memperlihatkan salah pengertian dan penuh kecurigaan kepada dirinya dan teman-temannya yang merupakan para pekerja dari wilayah Muslim di selatan. Bagaimana pun dia menyukai tinggal di Bangkok ketimbang di Kuala Lumpur jika soal uang dikesampingkan, “karena Bangkok merupakan rumah kami. Sangat menyenangkan. Saya dapat pergi ke mana saja selama di Bangkok. Di sini, saya tak dapat pergi ke tempat yang saya sukai karena harus hati-hati terhadap polisi. Maka saya hanya bekerja dan pulang ke rumah. Membosankan.” Hasrat, Pernikahan, dan Membangun Jaringan: Para Perempuan dan Melintas Perbatasan Ketika para lelaki menekankan keterbatasan bekerja di “tanah asing”, perempuan muda yang belum menikah lebih melihat adanya kesempatan-kesempatan dengan bekerja di Malaysia ketimbang hanya mengumpulkan uang. Migrasi awal dari daerah penutur Melayu di Thailand selatan ke Malaysia didominasi oleh lelaki. Jika perempuan ikut pergi, biasanya mereka mengikuti suami, atau bujae – janda-janda. Bekerja di Malaysia bukanlah pilihan bagi ano daro (atau anak dara dalam bahasa Indonesia, penterjemah), gadis yang belum menikah, yang pergerakannya sangat diawasi.
|
Pada 1980-an perempuan muda yang belum menikah mulai pergi ke Malaysia. Ketika itu sebagian besar dari mereka bekerja sebagai pekerja domestik pada keluarga Malaysia. Biasanya mereka bekerja di rumah-rumah tersebut milik anggota keluarga jauh atau seseorang yang dikenal oleh anggota keluarga. Ketika cara ini membuka jalan baru bagi perempuan yang belum menikah untuk mandiri secara ekonomi, cara ini hanya memberikan sedikit kebebasan untuk soal waktu dan mobilitas saat mereka masuk ke dalam rumah tempat mereka bekerja. Ketika sebagian besar perempuan dari Indonesia mulai bekerja sebagai pekerja domestik pada keluarga-keluarga Malaysia, perempuan muda dari Thailand selatan mulai bekerja di restoran dan penjual makanan di kota-kota di Malaysia. Mariam, saat ini berusia di awal tiga puluh, mengalami periode transisi ini ketika ia pertama kali menuju Malaysia pada akhir 1980-an. Setelah menyelesaikan sekolahnya di sekolah Islam swasta selama empat tahun, ia memutuskan untuk bekerja di Malaysia. Ia memiliki beberapa teman yang sudah terlebih dahulu bekerja, dan ia ingin mencari uang dan hidup di kota besar seperti teman-temannya. Pada waktu itu, sebagian besar gadis bekerja sebagai tenaga domestik, karena orang tua tidak mengijinkan mereka bekerja di restoran. Para orang tua berpikir lebih aman bagi anak gadis bekerja sebagai tenaga domestik bagi seseorang yang mereka kenal atau memiliki hubungan. Namun demikian, sama sekali tak ada cerita jenis-jenis kesulitan yang akan dihadapi para gadis ketika bekerja di restoran, khususnya dari lelaki Malaysia atau yang lainnya. Mariam meyakinkan ibunya, yang akhirnya berhasil meyakinkan ayahnya untuk mengijinkannya bekerja sebagai tenaga domestik di sebuah keluarga tempat temannya sudah lebih dahulu bekerja. |
Namun demikian, dengan cepat ia menemukan bahwa pekerjaan sebagai tenaga domestik sangat mengecewakan karena ia hanya memiliki sedikit kebebasan. Majikannya selalu memperhatikannya dan mengeluh jika ia menghabiskan banyak waktunya di luar rumah, majikannya mengatakan bahwa ia adalah ano daro dan tidak seharusnya berkelakuan jelek. Gajinya dua ratus ringgit setiap bulan, “tetapi dengan setiap bulan kembali ke Thailand, sama sekali tak ada yang tersisa!”. Saat itu juga sudah memiliki beberapa teman yang sudah bekerja di sebuah restoran Thai di sekitar tempatnya bekerja. Ia berpikir bekerja di restoran tentunya lebih menyenangkan ketimbang tenaga domestik. Maka, setelah kembali ke Thailand, ia tidak kembali ke rumah tempatnya semula bekerja, sebaliknya ia malah bekerja di restoran Thai tempat teman-temannya bekerja. Takut adanya keberatan, ia tidak menceritakan hal ini kepada orang tuanya bahwa ia pindah pekerjaan. Bagaimana pun juga, ketika orang tuanya menemukan setelah sebulan, ia berhasil meyakinkan orang tuanya untuk membolehkan terus bekerja di restoran. Ia bekerja di restoran selama setahun, sebelum restoran tempatnya bekerja mengalami kebangkrutan. Setelah itu ia menikah dengan seorang lelaki Malaysia yang sebelumnya menjadi pelanggan restoran tempanya bekerja. Walaupun ia sudah menikah dengan lelaki Malaysia selama satu dekade, Mariam tidak memiliki kewarganegaraan Malaysia. Ia masih mempercayai bahwa ia pernah tinggal di Malaysia sebagai pekerja ilegal dan ini menyebabkan ia bisa mendapatkan kewarganegaraan. Sebagai tambahan, ia mengatakan,” saya tak mau menjadi warga Malaysia,” karena ia akan tetap sebagai “khon thai”, dan tidak menginginkan kewarganegaraan Thai-nya dicabut. Disamping itu, ia merasa nyaman dengan akses yang
|
didapatkannya dari Malaysia melalui perkawinan dan dua anaknya dari suami yang warga Malaysia. Ia menggunakan koneksi suaminya untuk mencarikan pekerjaan bagi saudara lelakinya, Yusof, yang sudah bekerja di Kuala Lumpur selama beberapa tahun. Bagi perempuan seperti Mariam, uang bukanlah satu-satunya keuntungan yang dilihat dari pekerjaannya di restoran. Pada kenyataannya, bekerja di restoran di Malaysia hanya menghasilkan sedikit uang dibandingkan lelaki, karena praktiknya majikan memperkerjakan perempuan sebagai penyaji dan lelaki sebagai koki yang gajinya dua kali lipat. Walaupun adanya ketidakdilan ekonomi berlandaskan jender, bekerja di Malaysia masih menarik bagi gadis-gadis. Kebanyakan gadis dari Thailand selatan yang saya jumpai di restoran Thai di Malaysia pertama kali bekerja untuk saudaranya atau seseorang dari desa yang sama, seringkali mereka bekerja di negara bagian yang dekat dengan perbatasan Thai-Malaysia, seperti Kelantan, Trengganu atau Kedah. Dari sini mereka membangun jaringan pribadi yang terdiri dari teman-teman baru dan lama untuk mencari pekerjaan di tempat lain yang lebih menjanjikan, seperti misalnya ibukota Kuala Lumpur. Di kota-kota Malaysia, khususnya Kuala Lumpur, mereka dapat berpakaian lebih tegas ketimbang di kampung halamannya. Secara umum Muslim di wilayah penutur Melayu |