Tentang Hubungan antara Cheng Ho dan Islam di Asia Tenggara


Kong Yuanzhi

volume 10

english    japanese    chinese    filipino

THIS ISSUEKyotoreviewvol10.htmlhttp://www.kyotoreviewsea.org/Issue_10/TOC.htmlshapeimage_1_link_0
CSEAShttp://www.cseas.kyoto-u.ac.jp/index_en.htmlhttp://www.cseas.kyoto-u.ac.jp/index_en.htmlshapeimage_2_link_0

NEWS

ARCHIVESArchives.htmlhttp://livepage.apple.com/shapeimage_3_link_0

PDF

COMMUNITYhttp://www.kyotoreviewsea.org/cmshttp://www.kyotoreviewsea.org/cms/shapeimage_4_link_0
 


Dari tahun 1405 ke 1433, selama tujuh ekspedisinya, apakah Cheng Ho berpartisipasi dalam menyebarkan Islam keluar negeri? Tidak ada catatan yang relevan dalam arsip sejarah di Cina, sementara itu banyak catatan dan cerita di negara-negara Asia Tenggara yang menggambarkan secara jelas bahwa Cheng Ho memang membantu penyebaran Islam di sana. Walaupun begitu, apakah catatan dan cerita ini benar-benar sesuai dengan kenyataan sejarah? Pernyatan ini patut untuk didiskusikan lebih lanjut, karena menjawabnya akan membantu kita untuk memahami perjalanannya secara lebih lengkap, khusunya peranan Cheng Ho dalam pemkembangan Islam di Asia Tenggara di abad 15, yang merupakan bagian tak terpisahkan dari pertukaran budaya antara Cina dan Asia Tenggara. Dalam bagian berikutnya, pernulis kebanyakan akan berfokus pada diskusi oleh para peneliti asing tentang peranan Cheng Ho dalam penyebaran Islam di Asia Tenggar dan juga akan memberikan pandangannya pada isu ini. 


Islam di Asia Tenggara sebelum abad 15


Untuk lebih mengerti dan mengetahui aktivitas Cheng Ho yang berhubungan dengan penyebaran Islam di Asia Tenggara, perlu untuk melakukan pengenalan singkat tentang latar belakang Islam di wilayah ini. Untuk kapan dan di mana Islam datang di Asia Tenggara untuk pertama kalinya, B. W. Andaya, seorang peneliti New Zealand, dan Ishii Yoneo, peneliti Jepang menuliskan, “bagian utara dari pulau Sumatera adalah bagian yang terdekat dengan India dan dunia Islam, dan merupakan pemukiman Islam pertama di Asia Tenggara.”1


Menurut Ensiklopedia Indonesia, Islam pertama diperkenalkan di abad 13 ke bagian utara Sumatera, oleh para pedagang Persia dan pedagang dari Gujarat di India barat.2 Alasannya adalah berdasarkan fakta bahwa batu nisan dari raja pertama di Kerajaan Samudra Pasai, yang wafat di tahun 1297, terukir “Sultan Malik As Salih” dan beberapa kata yang mengindikasikan bahwa dia beragama Islam3 Terlebih lagi, batu nisan ini diimpor dari Cambay, yang terletak di Gujarat. Ini menunjukkan bahwa Islam diperkenalkan di Kerajaan Samudra Pasai dari Gujarat di tahun 1292 atau 1297 paling lambat. Dan banyak peneliti mendukung pernyataan ini.


Beberapa peneliti lain berbegangan bahwa, di abad 7 dan 8, beberapa pedagang Arab pergi ke Sumatera Utara, melakukan aktivitas perdagangan sambil menyebarkan Islam.4 Sementara itu, beberapa Muslim di Indonesia berpendapat bahwa Islam pertama kali diperkenalkan ke Indonesia dari Cina. Contohnyan, Abdurrahman Wahid, pemimpin Nahdatul Ulama, yang juga presiden Indonesia dari Oktober1999 sampai Juli 2001, pernah menyatakan bahwa Islam pertama kali disebarkan ke wilayah Indonesia oleh Muslim Cina.5 Professor. Dr. Nurcholish Madjid, seorang peneliti terkenal di Indonesia, memperkenalkan pandangan baru ketiga tentang asal-muasal Islam di Indonesia, contohnya: mungkin disebarkan dari benua Cina, seperti yang telah disebutkan, mungkin juga dari sub-benua India atau bagian selatan Arab.6 Terlebih lagi, beberapa peneliti bahkan berpendapat berasal dari Propinsi Yunnan di Cina.7 Beberapa peneliti lain berpikiran bahwa Islam di wilayah ini mungkin diperkenalkan oleh dua kelompok yang berbeda, seperti oleh Muslim dari Champa di bagian timur dan oleh mereka yang dari India di bagian barat.8 Artikel ini tidak akan berfokus pada padangan-pandangan yang disebutkan di atas, dan hal ini akan lebih dijelaskan lebih detail dalam artikel lain.


Menurut arsip sejarah, Kerajaan Samudra Pasai mendirikan kerajaan Islam pertama di Sumatera di abad 13, yang menjadi pusat Islam di wilayah ini. Di tahun 1292, ketika Marco Polo, seorang penjelajah Italia, kembali dari Cina ke Italia, berhenti sebentar di bagian utara Sumatera, dan menemukan bahwa banyak penduduk di sana telah beragama Islam.9 Ketika menulis tentang Kerajaan Perlak, dia mengatakan: Muslim selalu berkunjung dan berkotbah di sini, memberi kotbah kepada penduduk setempat untuk percaya dalam Islam. Walaupun begitu ini masih terbatas hanya di kalangan penduduk perkotaan.”10


Menurut catatan sejarah, kemungkinan besar, semenjak abad 7 dan 8, pedagang Muslim dari Arab, Persia dan India datang ke Sumatera. Contohnya, di bagian barat Sumatera, ada batu nisan dengan penanggalan sejak tahun 674 sebelum Masehi.11 Dan batu nisan Fatimah binti Maimum bin Hibat Allah, seorang Muslim perempuan yang meninggal di tahun 1082, ditemukan di sebuah desa di dekat Gresik di Jawa Timur.12 Walaupun begitu, beberapa orang berpendapat bahwa batu nisan ini dibawa di tahun belakangan. “Walaupun tanggal kematian yang terdapat di batu nisan tersebut dapat menggambarkan, hal ini hanya dapat membuktikan bahwa orang Arab atau orang Persia berkunjung ke sana sekitar tahun 1100. Bukti ini mengindikasikan penyebaran Islam di wilayah ini terjadi jauh setelah itu.”13 


Fakta-fakta ini menunjukkan bahwa, ada sejumlah Muslim di Indonesia sebelum abad 13. Walaupun begitu, tidak ada bukti yang meyakinkan yang mengindikasikan apakah ada masyarakat Islam atau kerajaan Islam sebelum itu. Meskipun begitu, kerajaan Islam pertama, seperti Kerajaan Samudera Pasai dan pemukiman Islam pertama, sangat dekat dengan Lhokseumawe di Aceh Utara, keduanya muncul setelah pertengahan abad 13.14 Walaupun begitu, ini tidak dapat menunjukkan bahwa Islam telah menyebar ke seluruh Sumatera saat itu. Ketika menulis tentang sejumlah tempat dekat Kerajaan, seperti Tamiang dan Lambri dalam catatanya Travels of Marco Polo, Marco Polo berkata: “para penduduk di sana pemuja gambar/patung (karena non-Muslims, pemujaan idola dilarang dalam Islam)”


Walaupun begitu, cukup benar dikatakan bahwa setelah pertengahan abad 13 Islam diperkenalkan dan menetap di Indonesia. Dari perkenalan yang pertama ke Sumatera dan menyebar lebih luas ke pulau-pulau lain seperti Jawa dan Kalimantan, proses ini membutuhkan waktu berabad-abad.


Dalam kasus Semenanjung Malaysia, catatan tertua tentang Islam terukit di batu nisan yang ditemukan di Terengganu. Walaupun begitu, penanggalannya susah ditemukan kerana dimakan oleh waktu.15 Menurut Sejarah Cambridge tentang Asia Tenggara (The Cambridge History of Southeast Asia), batu nisan ini adalah sebuah catatan dari serangkaian pengumuman kepada pejabat daerah yang diberikan oleh pemerintah kerajaan, salah satunya menyatakan bahwa para pejabat harus mendukung Islam dan perintah dari utusan Allah, yang mengindikasikan penanggalan antara 702 dan 789 tahun Islam ( atau 1303 dan 1387 S.M.)”  Hall, seorang peneliti Inggris, pernah menuliskan bahwa batu ini mungkin merupakan tanda batas antara wilayah Islam dan zona peperangan, dan batu nisan ini menunjukkan fakta bahwa orang setempat belum menerima agama baru ini (Islam). dan Ibn Battuta membuktikan bahwa, antara 1345 dan 1346, para penguasa di Semenanjung Malaysia adalan bukan orang Muslim. Oleh karena itu, Hall menyimpulkan bahwa, “Kenyataannya, hanya sedikit bukti yang meyakinkan yang membuktikan bahwa Islam diperkenalkan ke Semenanjung Malaysia sebelum abad 15.”16


Walaupun begitu, di Champa, Indocina, ada dua batu nisan dari orang Muslim yang berpenanggalan dari awal abad 11. Van Lear juga menuliskan bahwa batu nisan Arab dengan penanggalan tahun 1039 ditemukan di Champa. Sementara itu menurut Sejarah Cambridge tentang Asia Tenggara, bukti yang meunjukkan bahwa orang setempat telah beragama Islam hanya dapat ditemukan dari abad 13 dan selanjutnya, dan pada saat itu, agama tidak mengembangkan pengaruhnya melampaui daerah pelabuhan pantai yang tersebar di sepanjang jalur perdagangan.”17


Sebelum abad 13, ada lebih banyak lagi batu nisan dari yang disebutkan di atas, yaitu batu nisan dari orang Cina Muslim. Dan ini dapat dibuktikan dengan fakta-fakta sejarah. Contohnya, setelah pertengahan abad 9, setelah pemberontakan yang dipimpin Huang Chao menguasai Guangzhou, banyak pedagang Muslim Cina dan Arab dan Persian yang tinggal di sana berpindah ke Palembang di Samboja, Indonesia. Banyak peneliti Indonesia juga menyebutkan bahwa pemberontakan yang dipimpin oleh Huang Chao membuat banyak Muslim yang tinggal di sepanjang pantai selatan Cina berimigrasi ke Asia Tenggara.18 Tahun 943, ketika Masudi, orang Arab, melintasi Sumatera, dia melihat banyak orang Cina yang bercocok tanam di pulau itu adalah pengungsi dari kekacauan tersebut.19 Setelah abad 11, beberapa pedagang Muslim dari Gujarat, India, melakukan bisnis sambil menyebarkan Islam beberapa pelabuhan di Jawa. Sebagai hasilnya, tidak hanya orang lokal, tetapi juga pedagang Cina yang tinggal di sana juga masuk ke Islam.20Di tahun 1281, Cina mengirimkan dua utusan Muslim, Sulaiman dan Shamsuddin, ke Melayu di Sumatera.21


Karena imgrasi besar-besaran dari Cina ke Asia Tenggara pada Dinasti Yuan, sebelum Cheng Ho sampai di Jawa, sudah ada sejumlah Muslim Cina di sana. Menurut Catatan tentang Negara-negara Asing, dalam Dinasti Yuan, ada kapal yang berlayar secara rutin antara Quangzhou di Cina dan Tuban di Jawa setiap bulannya. Beberapa orang Cina bahkan bermukim di Jawa. Menurut Catatan tentang Negara-negara dan Pulau-pulau Asing yang kumpulkan oleh Wang Dayuan, ketika pemerintahan Yuan mengirimkan pasukan untuk menguasai Jawa, beberapa prajurit tinggal di sana tidak kembali. Pada waktu itu, orang Cina dan orang lokal bermukim di pulau yang sama. Dan Islam memjamur di Cina pada Dinasti Yuan, dan banyak prajuritnya adalah Muslim. Seperti yang dicatat dalam Perjalanan di Asia Tenggara oleh Ma Huan di abad 15 di Majapahit, “ada tiga macam penduduk di Jawa, satu diantaranya adalah kelompok Cina Muslim yang bermigrasi dari Canton, Zhangzhou dan Quanzhou, kebanyakan dari mereka adalah Muslim yang taat.”


Seperti yang ditunjukkan oleh beberapa peneliti, sebelum abad 15, Islam telah ada di beberapa bagian dari Asia Tenggara, walaupun begitu, penyebarannya sangat lambat. Ada dua alasan untuk itu. Pertama, Brahmanisme dan Budhisme dari India, telah lama mempunyai pengaruh yang kuat di Asia Tenggara; kedua, di negara-negara Asia Tenggara, telah ada kerajaan Sri Wijaya yang menyebarkan agama Budha di abad 7, Kerajaan Majapahit yang mendorong agama Hindu di abad 8, dan Dinasti Siam Ayutthaya yang mempromosikan agama Budha di abad 14, dan kerajaan-kerajaan ini juga menghalangi penyebaran Islam.22


Zheng He dan penyebaran Islam di Asia Tenggara


Ketika berbicara tentang hubungan antara Cheng Ho dan Islam di Asia Tenggara, beberapa peneliti sependapat bahwa “ekspedisi Cheng Ho membantu menghubungkan Timur dan Barat melalu transportasi laut, mengembangkan interkoneksi antara Asia Tenggara dengan dunia Islam, dan mempercepat penyebaran Islam di sana.” Sementara itu Cheng Ho, sebagai utusan dari Dinasti Ming, “mendukung kemerdekaan Kerajaan Malaka, dengan menyuntikkan kekuatan untuk penyebaran Islam.”23 Analisa makroskopik ini perlu sebagai keyakinan pada fakta-fakta sejarah.


Walaupun begitu, ketika peneliti asing membicarakan tentang aktifitas Cheng Ho dalam penyebaran Islam di luar negeri, kebanyakan dari mereka membicarakan aktifitasnya di wilayah Indonesia, khususnya di Jawa. Para peneliti Indonesia seperti Hamka, Mangaradja Onggang Parlindungan, Usman Effendi, Agus Sujudi, Roseau, Wiyono, Heru Christiyono, peneliti Cina Indonesia seperti Li Tianyou, Benny G. Setiono, peneliti Singapura seperti Lee Khoon Choy, Chen Yu Song dan peneliti barat seperti Wilmont dan Morrison semuanya memiliki pendapat yang sama. Di antaranya adalah, Mangaradja Onggang Parlindungan’s Tuanku Rao yang mempunyai penggambaran yang paling detail. Tuanku berati “atasan ku”, dan dimaksudkan untuk imam di sina, dan Rao adalah nama penyebar Islam yang tinggal d Sumatra di pertengahan abad 19, dan buku ini di tulis untuk mengenang dia. Lampiran 31 dari buku ini “Peranan Pengikut Cina Hanafiyah dalam Penyebaran Islam di Jawa (1411-1564)”, telah mendokumentasikan hal ini secara sangat detail. Karena konteks utama dari lampiran ini adalah catatan dari Semarang dan Cirebon ditulis dalam bahasa Melayu, beberapa peneliti menyebutkannya sebagai The Malay Chronicle for short.24 Dan karena buku ini dan lampirannya berdasarkan bahan-bahan yang dikumpulkan dari candi Cheng Ho (Candi Sam Po Kong) di Semarang, beberapa peneliti menyebutnya sebagai The Samarang Chronicle or, dalam bahasa Melayu, The Samarang and Tjirebon Chronicle.25 Untuk kemudahan, buku ini selanjutnya di sebut dengan Annuals dalam artikel ini.


Menurut para peneliti yang disebutkan di atas, aktifitas-aktifitas Cheng Ho yang beraitan dengan Islam di wilayah Asia Tenggara dapat dikelompokkan dalam dua jenis:


Yang pertama, dia bersembahyang di masjid-masjid di wilayah ini dan membangun sejumlah masjid di Jawa


Mangaradja Onggang Parlindungan menuliskan, “di tahun1413, dia berangkat dikirim oleh pemerintahan Ming untuk tinggal di Semarang selama satu bulan untuk memperbaiki perahu-perahu. Tiga komando, yang bernama Cheng Ho, Ma Huan dan Fei Xin, sering bersembahyang di masjid-masjid setempat.” Karena usaha besar Cheng Ho, “dari 1411 sampai 1416, komunitas pengikut Hanafiyah Cina juga terbentuk sedikit demi sedikit di Semenanjung Malaysia, Jawa dan Philipina, dan masjid-masjid juga didirkan di Ancol, Jakarta, Sembung, Lasem, Tuban, Gresik, Joratan di Cirebon dan Cangki di Mojokerto.”26


Menurut interpretasi dari Tuanku Rao, setelah wafatnya Cheng Ho dan akhir dari urusan kelautan, komunitas Islam Cina berhenti berintegreasi dengan masyarakat setempat, dan “masjid-masjid yang dibangun Cheng Ho dan pengikutnya menjadi candi-candi untuk memuja para penjelajah besar.”27 Heru Chritiyono mencatat legenda lokal yang mengatakan bahwa sebuah gua dimana Cheng Ho pernah tinggal di Semarang adalah pusat penyebaran Islam di sana.28Di tahun 1411, Cheng Ho membangun sebuah masjid kecil di dekat gua tersebut.29Seperti yang disebutkan di atas, Cheng Ho, Ma Huan dan Fei Xin sering mengunjungi masjid setempat di tahun 1413, dan jika semua catatan ini sesuai dengan sejumlah fakta-fakta sejarah, cukup dapat dipercaya kalau Cheng Ho mengunjungi Semarang paling tidak di tahun 1411 dan 1413.


Kita semua tahu bahwa masjid adalah tempat di mana kaum Muslim melakukan ritual mereka dan menyebarkan kepercayaan Islam. Karena usaha-usaha Cheng Ho, banyak masjid-masjid baru didirikan di Jawa, membantu penyebaran Islam lebih jauh di pulau tersebut.


Kedua, dia membentuk komunitas Muslim Cina di Asia Tenggara. 


Parlindungan menuliskan bahwa di tahun 1407, pasukan itu berperang dan mengambil alih Kukang, yang telah lama di kuasan oleh Cina non-Muslim dari Provinsi Fujian. Mereka mangkap Chen Zuyi, ketua bajak laut, dan membawanya dengan kawalan ketat ke Beijing (Nanjing saat itu), di mana dia dipenggal kepalanya di depan publik untuk memberi peringatan bagi kalangan Cina perantauan yang berimigrasi dari Fujian. Kemudian, komunitas pertama untuk para pengikut Hanafiyah Cina di Indonesia dibangun di Kukang. Pada tahun yang sama di Sambas, Kalimantan, komunitas Muslim Cina yang lain juga dibangun.30 Kemudian di tahun 1416, Cheng Ho membangun komunitas ketiga di sebelah barat laut Sumatra, dekat dengan muara Batanggadis.31


Dalam bukunya Runtuhnja Keradjaan-Keradjaan Hindu Djawa Dan Timbulnja Negara-Negara Islam Di Nusantara, Slamet Muljana juga menyatakan bahwa Cheng Ho pertama membangun komunitas Muslim Cina di Kukang, kemudian di Sambas dan daerah pantai di Java, menyebarkan Islam dikalangan orang Cina dengan menggunakan doktrin sekolah Hanafiyah.32


Lee Khoon Choy, seorang peneliti Singapura, menuliskan, “di tahun 1430, Cheng Ho telah membangun basis yang solid untuk penyebaran Islam dan membangun komunitas Muslim Cina di Tuban, Tjirebon, Kukang and Gresik.”33


Peneliti Singapura lainnya, Chen Yu Song juga menunjukkan bahwa, dengan dukungan besar dari Cheng Ho, imigran Cina pada periode ini kebanyakan mulai masuk agama Islam. Dia juga membantu membangun komunitas Muslim di Kukang, Gresik, dan tempat-tempat lain, dan menyebarkan Islam ke penduduk setempat.34


Cheng Ho juga menunjuk sejumlah Muslim Cina perantauan untuk menjadi pemimpin dalam komunitas Cina setempat, dan para pemimpin ini juga memerankan peranan yang penting dalam penyebaran Islam.


Menurut Annuals oleh Parlindungan, di tahun 1419, Cheng Ho menunjuk Bong Tak Keng, penduduk dari Champa yang merupakan keturunan pendatang dari Yunnan, untuk memerintah semua komunitas Muslim Cina di wilayah pantai Asia Tenggara. Pada tahun yang sama, Gan Eng Tju dipercayai oleh Bong Tak Keng untuk memerintah orang orang Cina yang bermukim di Manila, Philipina. Kemudian di tahun 1423, Gan Eng Tju dikirim oleh kakeknya dari Manila ke Tuban, salah satu pelabuhan utama di Jawa untuk memerintah Muslim Cina di Jawa, Kukang, Sumatra, dan Sambas, Kalimantan. Setelah Cheng Ho meninggal tahun 1434, Gan Eng Tju menjadi salah satu pemimpin utama dari orang-orang Cina di Asia Tenggara. Tahun 1443, dia menugaskan Swan Liong, yang saat itu sebagai Pemimpin Bagian Persenjataan, untuk menjadi pemimpin Muslim Cina di Kukang.


Di tahun 1445, Bong Swee Hoo (1401-1481), yang merupakan cucu Bong Tak Keng dan juga menantu Gan Eng Tju, juga diutus ke Kukang untuk membantu Swan Liong. Bong Swee Hoo disebut sebagai Raden Rachmat atau Sunan Ngampel di Indonesia, Sunan berarti orang suci yang telah melakukan kontribusi yang besar kepada penyebaran Islam di Jawa dan Ngampel adalah salah satu dari Sunan Islam terbesan di sana. Antara tahun1451 dan 1477, dia membangun beberapa komunitas Muslim umumnya untuk penduduk asli Jawa di Ngampel, Jawa bagian utara dan Madura.


Yang perlu mendapat perhatian di sini adalah fakta bahwa Cheng Ho berkotbah dalam bahasa Cina, sementara itu Bong Swee Hoo, seorang keturunan Cina yang besar di Jawa, berkotbah dalam bahasa Jawa. Selama periode ini, secara bersamaan dia memimpin komunitas Muslim Cina di Jawa bagian utara, Madura, Kukang dan Sambas. Slamet Muljana menuliskan, di tahun 1451, Bong Swee Hoo meninggalkan komunitas Muslim Cina di Bangil untuk pergi ke Lembah Sungai Mas untuk berkotbah kepada penduduk setempat di sana. Anaknya, Bonang (1465-1525), tidak dapat berbahasa Cina dan menggunakan bahasa Jawa untuk menyebarkan doktrin-doktrin Islam.35 Sie Hok Tjwan, seorang peneliti Cina Belanda menuliskan, di abad 16, banyak Muslim CIna di bagian utara Jawa menggunakan bahasa lokal daripada bahasa Cina36 Walaupun penduduk setempat masih “memuja benda-benda berhala” di abad 1537, kenyataan bahwa Cheng Ho dan orang-orang Cina bawahannya yang berada dalam kegiatan penyebaran Islam di Jawa merupakan hal yang sangat penting.


Djin Bun (atau Orang Kuat, 1455-1518), anak angkat dari Swan Liong, dan anak dari raja Madjapahit dengan seorang gadis Cina pembantu Istana, disebut juga dengan nama Raden Patah. Dan dialah yang meruntuhkan dinasti Madjapahit yang memegang teguh Budhism, dan membangun sebuah kerajaan Islam di Demak, yang merupakan kerajaan Islam pertama di Jawa. Kerajaan ini memerankan peranan yang sangat penting dalam penyebaran Islam di Kalimantan dan juga di Jawa. Di tahun 1474, ketika Djin Bun melakukan perjalanan ke Semarang, dia menemukan bahwa sebuah gambar di masjid diganti untuk mengingat tentang Cheng Ho, dan membuat tempat ini lebih menjadi candi Cheng Ho dari pada sebuah masjid, sementara itu pemujaan gambar dilarang dalam masjid. Djin Bun, sebagai Muslim yang taat, sangat marah menyaksikan situasi tersebut. Dia memohon dan mengharapkan Allah untuk membantunya membangun masjid baru dalam waktu dekat. Keinginannya akhirnya dapat terwujudkan. Sebuah masjid yang indah berhasil dibangun di Semarang di tahun 1487, yang masih berdiri sampai saat ini.


Ketika membicarakan tentang penyebaran Islam di Jawa antara abad 14 dan 16, “kita tidak dapat mengabaikan sembilan orang suci (Wali Songo), karena mereka adalah diantara yang terbaik dari banyak penyebar agama di Jawa. Penduduk setempat, khususnya kaum muslim, sangat menghormati mereka”38


Dan apakah hubungan antara Cheng Ho dengan sembilan orang suci ini?


Di antara ke sembilan orang suci yang disebutkan di atas, Bong Swee Hoo, atau Sunan Ngampel, adalah tokoh yang paling penting. Kedua anaknya Sunan Bonang dan Sunan Drajat juga orang suci. dan Sunan Giri belajar di sekolah Qur`an yang diasuh oleh Sunan Ngampel, oleh karena itu dia juga murid dari Bong Swee Hoo.


Ketika berbicara tentang kontribusi Cheng Ho pada penyebaran Islam, para peneliti Indonesia selalu menyebutkan tokoh lain, Raden Paku, atau Sunan Giri. Di tahun 1407, dengan bantuan Shi Jinqing, seorang Cina Muslim, pasukan Cheng Ho berhasil melawan Chen Zuyi, pemimpin bajak lauk di Sumatera. Oleh karena itu, Shi Jinqing diberi penghargaan pangkat militer oleh Kaisar Cheng dari Dinasti Ming . Di tahun 1421, ketika Shi Jinqing meninggal, anaknya Shi Jisun dan adik perempuan keduanya saling bersaing untuk mendapatkan posisi ini. Akibatnya, diantara ekspedisinya yang ke 6 (1421-1422) dan ke 7 (1431-1433) dalam waktu luang, Cheng Ho pergi ke Kukang pada tanggal 8 Januari 1424 dengan tujuan untuk menyelesaikan pertikaian ini. Anak perempuan tertua Shi Jinqing, yang biasanya disebut dengan Nyai Gede Pinatih, datang ke Jawa karena pertikaian keluarga ini.  Dan dia terkenal karena kerja kerasnya dan keberhasilannya dalam penyebaran Islam di Jawa timur dan kemudian menjadi ibu angkat dari Raden Paku yang mengabdikan dirinya untuk penyebaran Islam di daerah Surabaya. Ketika Madjapahit mengirimkan pasukannya untuk menekan aktifitas ini, Raden Paku, seorang yang bijaksana dan berani, memimpin para pengikutnya melawan dan mengalahkan penyerang. Menurut Ensiklopedia Indonesia, Raden Paku dikuburkan di pegunungan Giri dekat Gresik, oleh karena itu orang-orang menyebutnya Sunan Giri. Dan ketiga tokoh penting di atas, tanpa pengecualian adalah Muslims. Mereka setidak kurang lebih berhutang kepada komunitas Muslim pertama di Indonesia yang didirikan oleh Cheng Ho di Kukang tahun 1407.


Sunan Kalijaga, anak dari Gan Eng Tju, adalah saudara ipar Bong Swee Hoo, dan dia juga dididik oleh Bong Swee Hoo dan anaknya, Sunan Bonang. Sunan Muria adalah anak laki-laki dari Bonang, karena itu dia adalah cucu dari Bong Swee Hoo. Di antara ke delapan orang suci tersebut, lima di antaranya mempunyai hubunga, baik berupa hubungan darah maupun hubungan sesama perguruan, dengan Bong Swee Hoo. Dalam bukunya The 6th Overseas Chinese State, Sie Hok Twjan, seorang peneliti Cina Belanda mengatakan: di antara sembilan orang suci di Jawa, tujuh diantaranya mempunyai hubungan darah persaudaraan Cina.39


Djin Bun, yang meruntuhkan kejayaan Dinasti Madjiapahit, menikah dengan anak perempuan Sunan Giri, atau Raden Paku, dan juga merupakan murid dari Sunan Bonang, walaupun dia bukan orang suci.


Sebagai tokoh kunci di antara ke sembilan orang suci, (lihat lampiran yang diterjemahkan), Bong Swee Hoo adalah cucu dari Bong Tak Keng, dan di tahun 1413 Bong Tak Keng dikirim oleh Cheng Ho ke Champa untuk memimpin komunitas Muslim Cina di Asia Tenggara.40 Yang lebih penting adalah, usaha Cheng Ho untuk membangun komunitas Mulsim Cina di Champa, Philipina, Semenanjung Malaysia dan Kepulauan Indonesia di dalam 30 tahun pertama dari abad 15 telah menciptakan lingkungan yang nyaman untuk kemunculan ke sembilan orang suci dan kotbah-kotbahnya di abad 15 dan 16, sehingga membuat para pemimpin Muslim Cina setempat untuk menyebarkan Islam lebih lanjut dari generasi ke generasi selanjutnya. Karena Bong Tak Keng dan Gan Eng Tju masing-masing memimpin komunitas Muslim di Champa dan Philipina, cukup meyakinkan untuk dikatakan bahwa pengaruh dari para pemimpin Muslim Cina tidak hanya di Jawa dan Sumatra, melainkan lebih jauh lagi melampaui batas wilayah Indonesia di bagian lain Asia Tenggara.


Keberhasilan dalam penyebaran Islam di Asia Tenggara sangat dihargai oleh para peneliti lokal.


Buya Hamka, adalah seorang pemimpin Islam yang terkenal di Indnesia, dia pernah menuliskan, “Pembangunan Islam di Indonesia dan Malaysia dekat hubungannya dengan seorang Muslim Cina, dan dia adalah Admiral Cheng Ho.”41 Buya Hamka juga mengatakan bahwa Kaisar Cheng Emperor dari Dinasti Ming memilih Cheng Ho untuk memimpin ekspedisi tidak kerena dia ingin menyebarkan Islam di sana, walaupun begitu, pilihan ini tidak hanya memperluas wilayah kekuasan pemerintahan Ming ke pulau-pulau Melayu (termasuk semua pulau yang berada dalam wilayah Malaysia dan Indonesia dan Semenanjung Malaysia), tetapi juga berhasil menyebarkan agama Islam ke penduduk setempat. Dan karena Cina mengakui negara-negara Islam ini, mereka bebas dari ancaman yang datang dari Siam dan Madjapahit. Setelah Pasai menghilang dari Sumatera Utara, Malaka menjadi pusat Islam di wilayah tersebut. Di saat akhir Hamka juga mengutip sebuah siaran pidato oleh Fattemmeh, seorang professor Pakistan, yang mengatakan bahwa pembangunan Islam di Asia Tenggara mempunyai hubungan dengan Admiral Cheng Ho.


Pada tanggal 14 September 1985 edisi dari majalah Indonesia, Tempo, satu artikelnya menuliskan bahwa sebagai seorang Muslim yang taat, Cheng Ho melakukan kegiatan kotbah di manapun dia melakukan perjalanan di Jawa.42 Artikel ini juga menyatakan bahwa kegiatan religius Cheng Ho tidak hanya dibatasi di Indonesia dan Brunei, tetapi juga mencapai Malaka dan kerajaan-kerajaan lainnya.


Robert Morrison (782-1843), seorang misionaris Inggris, mengatakan, “Di antara pulau-pulau di Asia Tenggara, Jawa adalah yang paling kaya. Di tahun 1405, seorang penyiar Islam (Cheng Ho) memimpin tentaranya untuk memaksa penduduk setempat untuk meninggalkan pemujaan berhala dan masuk ke dalam agama Islam.”43 Ini menjelaskan bahwa di awal abad 15, Cheng Ho benar-benar menyebarkan Islam di Jawa. Walaupun begitu Cheng Ho menggunakan kekerasan untuk merubah orang local ke Islam adalah menyalahi kebernaran sejarah. Sampai saat ini, tidak ada artikel ataupun buku yang mencatat kejadian kekerasan seperti yang dikatakan.


Wang Juesheng, seorang Cina perantauan, pernah menuliskan, “Bagian utara dari Makasar di pulau Celebes, yang merupakan koloni Belanda (atau Ujung Pandang di Sulawesi) pernah dinamai dengan Exterior City. Di masa Dinasti Ming, Cheng Ho melakukan perjalanan ke sana, dan memberikan gelar raja kepada pemimpin penduduk setempat yang telah meninggalkan agama Budha ke Islam”44


Di dalam candi Cheng Ho di Semarang, ada sebuah gendang besar, di mana empat karakter Cina Mo Ren Lan Yin diukir. Beberapa peneliti Indonesia menginterpretasikanya sebagai “kata-kata dzikir dari Qur`an”.45 Di tahun 1993, ketika peneliti mengunjungi candi ini, dia tidak melihat gendang tersebut, tetapi di sebuah papan juga terukir karakter Cina yang sama. Beberapa kawan menyatakan bahwa Cheng Ho sendiri yang membangunnya sebagai sebuah masjid, tetapi di kemudian hari diperbaiki oleh orang Cina lokal, yang beragama Budha, Tao atau konfusianisme, sebagai candi Cheng Ho. Walaupun begitu, papan ini berulang-ulang mengingatkan kepada orang-orang bahwa Cheng Ho adalah seorang Muslim yang taat. Menurut cerita yang telah tersebar di Indonesia, Cheng Ho tetap melakukan ibadah puasa saat berkunjung ke Jawa.


Terlebih lagi, beberapa peneliti asing juga banyak membicarakan tentang penyebaran di Jawa oleh Wang Jinghong, utusan yang lain dari pasukan Cheng Ho. Menurut Amen Budiman  dan beberap peneliti lain, ketika pasukan Cheng Ho berlayar sepanjang daerah pantai di utara pulau Jawa, Wang Jinghong tiba-tiba jatuh sakit, kemudian Cheng Ho memerintahkan pasukannya untuk mendarat di Semarang sehingga Wang mendapatkan perawatan. Sepuluh hari kemudian Cheng Ho meneruskan pelayarannya, meninggalkan Wang dan 10 orang pembantu supaya dia dapat sembuh. Setelah sembuh, Wang tidak berangkat untuk menyusul pasukan melainkan tetap tinggal di sana. Karena antusiasmenya untuk daerah ini, dia mengajari petani setempat dan orang-orang Cina untuk bercocok tanam dan melakukan bisnis, selain itu, dia juga berkotbah ke mereka dengan menggunakan doktrin Islam. Kemudian Wang terus bermukim di Semarang sampai kematiannya di usia 78. Penduduk setempat menguburkannya menurut tata cara Islam dan menamainya “navigator untuk Tuan Cheng Ho dan seorang Imam Islam.”46 Sebuah legenda setempat mengakui bahwa “Wang Jinghong adalah seorang muslim yang sangat taat”47   


Pertanyaan-pertanyaan tentang peranan Cheng Ho dalam penyebaran Islam di Asia Tenggara


Alasan mengapa Cheng Ho menyebarkan Islam di luar negeri


Sangat mudah untuk menemukan alasan untuk Cheng Ho menyebarkan Islam do luar negeri

Pertama, di awal Dinasti Ming, Islam menikmati perkembangan yang luar biasa di Cina, menyediakan kondisi yang menguntungkan untuk penyebarannya ke negara lain.


Semenjak Dinasti Yuan, penguasa dari pemerintahan Yuah mengadopsi kebijakan “memerintah rakyatnya berdasarkan tradisi mereka”, oleh karena itu Islam, Budhisme, Taoisme dan Lamaisme semuanya dilindungi oleh pemerintah. Dan di Dinasti Yuanm, Muslims ada di hampir seluruh Cina. Ibn Battuta melaporkan bahwa komunitas Muslim dapat ditemukan di setiap kota di Cina, dan mereka membangun masjid-masjid di dalam komunitas mereka.48 Menurut History of the Ming Dynasty: Biography of Samerqhan (Sejarah Dinasti Ming: Biografi Samerghan), “Muslims ada di mana mana di masa Dinasti Yuan”. Di akhir Dinasti Yuan, ada banyak komandan militer dan prajurit Muslim dalam pemberontakkan yang dipimpin oleh Zhu Yuanzhang seperti Chang Yuchun, Mu Ying dan Hu Dahai. Sehingga, orang-orang menggambarkan bahwa “diantara para pejabat tinggi di sekeliling kaisar, lebih dari separuhnya adalah Muslim”. Dam Kaisar Tai dari Dinasti Ming mengadopsi kebijakan konsiliasi dengan para Muslim, seperti memerintahkan untuk membangun masjid-masjid. Kaisar itu sendiri juga menulis sebuah nyanyian dengan menggunakan seratus karakter Cina yang memuja Islam dan Muhammad karena “kemampuannya yang luar biasa dalam berkotbah dan mengusir roh jahat”, dan juga untuk karakternya sebagai “pemimpin suci”.49 Di tahun 1382, Kaisar ini mengeluarkan sebuah pengumuman yang memerintahkan pendirian sebuah monumen dengan pesan-pesan pribadi tertulis di atasnya dalam sebuah masjid di lembah Daxuexi, Xi’an. Tulisan tersebut berbunyi: “Apabila masjid ini runtuh, pembangunan kembali harus segera dilaksanakan secepatnya tanpa penundaan.” Di awal Dinasti Ming, Muslim telah membentuk sebuah suku bangsa di Cina, orang Hui. Pada tanggal 11 Mei 1407, Kaisar Cheng dari Dinasti Ming mengeluarkan sebuah keputusan kerajaan untuk melindungi Mili Hajj, seorang Muslim asing yang tinggal di Cina, dengan mengatakan bahwa, “dia taat dengan kepercayaannya dan sangat berbaik hati, melakukan banyak pekerjaan menolong dan menawarkan bantian kepada orang lain. Taat, dapat dipercaya, suka menolong dan jujur, apa yang telah dia lakukan membuat dia berhak untuk mendapatkan sanjungan”, dan oleh karena itu, keputusan ini berlanjut, “dia harus dihormati dan dilindungi.” Dia juga memerintahkan bahwa, “para pejabat, perwira militer, dan penduduk setempat tidak boleh mengejek dia. Jika seseorang berani melawan keinginan Kaisar, dia akan dihukum berat.” Keputusan ini menunjukkan secara jelah penghargaan para kaisar dalam Dinasti Ming kepada Islam dan keinginannya untuk melindungi Muslim asing yang tinggal di Cina dan menciptakan kondisi yang menguntungkan bagi Cheng Ho untuk menyebarkan agamanya ke luar negeri.


Kedua, sebagai seorang Muslim, ini merupakan kewajiban mulia untuk menyebarkan Islam bagi Cheng Ho.


Cheng Ho lahir di sebuah keluarga Hajj, dan dia sendiri adalah seorang Muslim. Di tahun 1417, dia berziarah ke makam Muslim pendahulunya di Gunung Ling dan bersembahyang di Gunung Jiuri di Quanzhou. Dan di tahun 1413, Cheng Ho memperbaiki sebuah masjid di Xi`an, dan mengajukan ke istana untuk membangun sebuah masjid di Nanjing sebelum ekspedisinya yang ke 7. Sebelum berangkat dia telah merekrut pejabat-pejabat Muslim seperti Ma Huan, Ha Shan, Guo Chongli dan Sha Ban sebagai pengikutnya. Aktifitas ini menunjukkan keinginannya dan misinya untuk menyebarkan Islam dan memungkinkan untuk diambil dari catatan sejarah. Ini dapat dibanyangkan bahwa dalam pelayarannya, Cheng Ho tidak akan melupakan tanggung jawab dan kewajibannya. Terlebih lagi, karena usaha-usaha Cheng Ho dalam menyebarkan Islam, dia membangun hubungan dekat dengan para penguasa dan penduduk setempat, yang memungkinkan dia untuk dapat menyelesaikan ekspedisinya dengan lebih baik.


Sumanto Qurtuby, seorang peneliti Indonesia, menuliskan bahwa Cheng Ho secara virtual tinggal di semua kota yang pernah dia kunjungi tidak hanya sebagai diplomat yang bekerja untuk pemerintahan Ming dalam hal mendapatkan kepentingan politik dan ekonomi, tetapi juga misionaris Islam. Dia tentu saja melaksanakan tugas dari kerajaan, tetapi sebagai seorang Muslim dia juga menempatkan motif untuk menyebarkan Islam.50


Ketiga, pada saat itu, banyak negara di Asia Tenggara berada dalam transisi dari dominasi Budha ke dominasi Islam, dan usaha-usaha Cheng Ho hanya memenuhi kebutuhan saat itu.


Dalam catatan arsip-arsip kuno, tujuh ekspidisi Cheng Ho, dia selalu berkunjung ke Jawa kecuali dalam perjalanannya yang ke enam. Dalam periode ini, yaitu di awal pertengahan abad 15, Jawa tepat pada periode transisi, dan tidak sampai seratus tahun kemudian akhirnya Islam berkembang secara sendirinya di sana. Ketika memperkenalkan sejarah dari masjid-masjid di Jawa, Aboebakar menuliskan, “ Di pertengahan abad 15, kebanyakan penduduk Jawa memeluk agama Budha, dan hanya sedikit yang Muslim.”51 Ketika membicarakan tentang Sunan Ngampel, dan tentang pengaruh Cina Islam di Indonesia dari pandangan adanya banyak macam sekolahan dalam Sunni, Slamet Muljana menuliskan bahwa sampai abad 13, Hanafiyah telah dipraktekkan di Asia Tengah, India bagian utara dan Turki, dan setelah Ghinggis Khan berkuasa, Islam diperkenalkan di Cina. Jadi keberadaan Hanafiyah di pantai-pantai bagian utara pulau Jawa di abad 15 diperkenalkan dari Cina. Jika Islam telah datang dari Malaka atau dari daerah pantai sebelah timur Sumatera, itu pasti bukan Hanafiyah, tetapi Shafiiyah atau sekolah-sekolah lainnya.52 Bahwa Cheng Ho dan pengikutnya menyebarkan Islam di abad 15 adalah respon dari kebutuhan pada waktu itu, dan hanya Hanafiyah yang mereka sebarkan.


Keempat, aktifitas Cheng Ho untuk menyebarkan Islam di Asia Tenggara dilakukan dengan perilaku damai dan dekat hubungannya dengan aktiftas-aktifitas komersial.


Misi utama untuk ekspedisi Cheng Ho adalah untuk “memperkenalkan kebaikan dan moralitas untuk mempromosikan hubungan yang harmonis dengan negara lain”, jadi untuk menciptakan lingkungan internasional yang damai dengan sebuah pandangan untuk mendukung pemerintahan Ming. Selama ekspedisi-ekspedisinya, Cheng Ho menggunakan pasukanya hanya tiga kali karena dia harus membela diri. Dan menurut arsip-arsip asing yang ada, sebagai seorang Muslam, Cheng Ho menyebarkan Islam dengan cara yang damai.


Apakah karena dinilai dari perkembangan dari jaringan penyebaran Islam di Asia Tenggara melalui Muslim Cina atau oleh pembangunan komunitas Muslim Cina dan integrasi mereka setelah kematiannya, cara Cheng Ho dalam menyebarkan Islam adalah dengan damai dan tradisi ini telah dilakukan dari generasi ke generasi. Contohnya, Annuals menuliskan, di tahun 1413, Cheng Ho menunjuk Bong Tak Keng yang tinggal di Champa, untuk memimpin semua komunitas Muslim Cina di Asia Tenggara. Dan kemudian Bong Tak Keng menugaskan Gan Eng Tju untuk bertanggung jawab dalam administrasi dari komunitas pertama di Philipina dan kemudian di Indonesia. Dan tidak ada tanda-tanda kekerasan di sana. Banyak pemimpin Muslim Cina, yang lebih kurang berhutang kepada Cheng Ho, meneruskan tradisi tanpa kekerasan dalam kotbah mereka. Dalam beberapa kasus lain di Annuals juga diindikasikan tentang pendekatan tanpa kekerasan. Contohnya, dalam tulisanya untuk bagian tahun 1478, buku ini menuliskan, “Hajj Bong Swee Hoo tidak pernah mempunyai konflik dengan penduduk asli yang memeluk agama Budha.” Antara 1478 dan 1529, buku ini menuliskan, “Raja Shan menguasai Semarang lebih dari 50 tahun. Dia dicintai oleh rakyatnya, dan melindungi mereka semua tanpa memandah agama kepercayaan mereka.” Menunjukkan tidak adanya kekerasan dan diskriminasi, Raja Shan bahkan menunjuk oleh Gan Shi Chang, anak dari Gan Eng Tju yang telah keluar dari Islam, untuk menjadi pemimpin kelompok Cina non-Muslim di Semarang.


Hamka menuliskan, “Pengenalan Islam ke dalam negara-negara Melayu (yang dimaksud adalan negera-negara di wilayah Indonesia dan Semenanjung Malaysia dimana bahasa Melayu digunakan, seperti Indonesia, Malaysia dan Brunei) sangat berbeda, yaitu dilakukan dengan damai dan proses sedikit demi sedikit tanpa pemaksaan. Para penduduk lokal menerimanya secara suka rela dan sedikit demi sedikit.”53 


Misionaris pertaman di Asia Tenggara adalah pedagang Muslim, dan mereka kebanyakan aktif di sekitar pelabuhan, seperti Gresik, Surabaya dan Mojokerto di Jawa, Kukang di Sumatera, dan Malaka di Semenanjung Malaysia. Yang perlu dicatat adalah bahwa Islam diperkenalkan ke Indonesia bersama dengan perniagaan, yang mempromosikan perkembangan bisnis di sini, menandai satu langkah maju di abad pertengahan di Indonesia. Contoh lain sebagai berikut. Maulana Malik Ibrahim, salah satu dari sembilan orang suci di Jawa adalah pedagang. Dia lahir di Gujarat India dan pergi untuk memimpin sebuah misi ke Jawa di tahun 1379, dan meninggal di tahun 1419.


Ketika menggambarkan secara keseluruhan dari perkembangan Islam di Asia Tenggara antara akhir abad 13 dan awal abad 16, M.C. Ricklefs, penulis dari Sejarah Indonesia menuliskan, “tempat-tempat di mana Islam disebarkan adalah di tempat-tempat perdagangan yang paling penting di negara tersebut, seperti sepanjang pantai Sumatra, Semenanjung Malaysia, bagian utara Jawa, Brunei, Suku dan Maluku.”54 Dan tempat-tempat yang disebutkan di atas sering dikunjungi oleh pasukan Cheng Ho. Yang patut mendapatkan perhatian adalah bahwa tempat-tempat ini pada saat yang bersamaan adalah tempat-tempat di mana para pedagang swasta dan Cina Muslim paling aktif. Oleh karena itu, sangat jelas bahwa di Asia Tenggara di abad 15, jalur dan jadwal pelayaran Cheng Ho, jaringan pedagang swasta Cina dan jaringan untuk penyebaran Islam oleh Muslim Cina bertemu, dan mereka berinteraksi satu sama lainnya dan saling melengkapi.


Seorang peneliti Belanda yang telah melakukan penelitian mendalam dalam sejarah Islam di Indonesia menunjukkan bahwa selama periode awal ketika Islam disebarkan di Jawa, karena agama ini menganut persamaan di antara semua orang tanpa memandang kelahiran, status sosial dan suku asal, agama ini sangat menarik bagi para pedagang dan buruh-buruh pelabuhan yang berasal dari tempat-tempat yang berbeda dan latar belakang yang berbeda, walaupun, para pedagang berada dalam kalangan menengah. Dalam masalah ini, Islam membantu membangun hubungan yang sejajar dan harmonis dalam masyarakat. Terlebih lagi adanya kesejajaran dalam perkawinan adalah merupakan subyek baru dalam pembicaraan sehari-hari orang-orang.55 Peneliti ini juga menyebutkan bahwa Nyai Gede Pinatih, yaitu anak perempuan tertua Shu Jinqing, adalah pedagang kaya di Gresik, Jawa timur. Anak angkatnya Sunan Giri, salah satu dari sembilan orang suci di Jawa, biasa berlayar ke bagian selatan Kalimantan untuk keperluan dagang. Semua ini menunjukkan bahwa penyebaran Islam di wilayah Indonesia dekat hubungannya dengan perkembangan perdagangan, dan sejumlah Muslim terkenal adalah pedagang-pedagang kaya.


Dalam membicarakan tentang kotbah Cheng Ho di Kukang, Chen Yu Song mengatakan, “Dengan dukungan Cheng Ho, sebuah dunia pengaruh menjadi kenyataan, dan agama dan perdagangan berkaitan satu sama lain. Melalui Islam, Muslim, dari berbagai bangsa, semua menjadi ahli dalam perdagangan. Di lain pihak, sukse dalam perdagangan laut juga memberikan suntikan yang membantu perkembangan Islam.”56


Sementara itu, bantuan yang diberikan oleh komunitas Muslim Cina di Asia Tenggara untuk pelayaran Cheng Ho perlu mendapatkan perhatian. Dalam bagian kedua dari Annuals, yaitu di permulaan tahun 1415, Catatan Cirebon menuliskan bahwa di tahun 1415, karena kedatangan pasukan Cheng Ho, komunitas Muslim Cina didirikan di Sembung dan beberapa desa lainnya, dan setiap komunitas memiliki masjid sendiri. Desa Sembung diperintahkan untuk menyediakan jati untuk memperbaiki kapal-kapal, dan yang lainnya untuk memelihara dan membaiki kapal dan desa ke tiga untuk menara laut. Dan ketiga desa Muslim ini bersama-sama bertanggung jawab untuk pengawasan logistik bagi pasukannya.


Terlebih lagi, perkawinan silang antara Muslim imigran dengan wanita setempat adalah hal yang lain dalam perkembangan Islam di Indonesia. Kaum Muslim Cina dari lima orang suci yang disebutkan sebelumnya adalah contoh dari perkawinan silang tersebut. Dan berkawinan antara juru masak Cheng Ho dengan seorang penari Jakarta adalah merupakan kasus puncaknya. Dan bahwa juru masak itu pastilah orang muslim, dan setelah kematian keduanya, pasangan tersebut dikubur bersama, dan makam mereka dianggap sebagai makam bersejarah.57 Semua fakta-fakta ini sangat sesuai dengan ide-ide Islam yang menganut kesejajaran tanpa memandang kelahiran, status sosial dan suku dalam perkawinan.


Kemudian berdasarkan dari contoh-contoh yang dikutip di atas, sangatlah mungkin bila Cheng Ho terlibat dalam penyebaran Islam di Indonesia, dan apa yang dia lakukan merupakan hal yang cukup penting pada saat itu.


Pada artikelnya yang berjudul “Cheng Ho”, Hamka menunjukan bahwa, “Dapat disimpulkan bahwa mereka yang telah membantu mengembangkan Islam di negara kita (Indonesia) tidak hanya orang-orang Arab, Persia, India, Malabar dan Gujarat, tetapi juga Muslim Cina.”


Hamka juga menuliskan bahwa penelitian tentang kontribusi Cheng Ho untuk perkembangan Islam di Indonesia masih belum cukup. Sampai saat ini, gambaran Cheng Ho hanya terbatas pada gambar tokoh ini yang ada di candi Cheng Ho di Semarang atau beberapa tempat lainnya dan sejumlah legenda. Oleh karena itu Hamka menyarankan untuk para peneliti yang berfokus pada sejarah Islam di Indonesia untuk memperlajati Cheng Ho lebih lanjut.58 Juga di tahun 2003, A. Kustiya, duta besar Indonesia untuk Cina, dalam Simposium Internasiona Kedua tentang Cheng Ho menyatakan bahwa “di Indonesia, Cheng Ho lebih menjadi legenda dari pada tokoh sejarah.59


Alasan yang mungkin menyebabkan kurangnya penelitian yang mendalam dan sistematis oleh peneliti-peneliti Cina dan asing tentang peranan Cheng Ho dalam penyebaran Islam di luar negeri.


Alasan utama mengapa adalah bahan-bahan yang terkait cukup langka. Sejarah Dinasti Ming dan banyak catatan sejarah penting lainnya di Cina tidak menyebutkan tentang aktifitas keagamaan Cheng Ho di luar negeri, dan catatan-catatan ini juga jarang dikutip dalam biografi ataupun novel-novel terkait. Yang perlu mendapatkan perhatian adalah bahwa Ma Huan, seorang Muslim yang beberapa kali menemani Cheng Ho dalam ekspedisi-ekspedisinya, tidak pernah mencatat apapun tentang kotbah Cheng Ho dalam bukunya Perjalanan ke Asia Tenggara, yang menjelaskan secara detail kegiatan-kegiatan Muslim dan Islam di negara yang mereka kunjungi. Contohnya di Jawa, “ada tiga macam penduduk lokal. Satu kelompok adalah Muslim yang datang dari bagian barat Asia yang melakukan bisnis, dan mereka memiliki rasa dan bersih dalam kehidupan sehari-harinya. Kelompok lainnya adalah Cina Muslim yang datang dari Guangdong, Zhangzhou dan Quangzhou, yang juga memiliki gaya hidup yang bersara dan bersih. Kebanyakan dari mereka berpuasa menurut tata cara Islam.” Di Malaka, “Kaisar dan pengikutnya adalah Muslim, dan mereka membaca Qur`an dan berpuasa.” Di Aru, “raja dan rakyatnya adalah Muslim,” Di Lambri, “orang-orang yang tinggal di daerah pantai adalah Muslim.” Di Calicut, “Dua pejabat yang paling penting di dekat raja yang bertanggung jawab tentang urusan nasional keduanya adalah Muslim. Kebanyakan dari rakyatnya beragama Islam, dan ada dua puluh sampai tiga puluh masjid di sana. Semua Muslim pergi bersembahyang setiap minggu. Pada hari itu seluruh keluarga tidak melakukan kegiatan apapun selain mandi. Semua laki-laki, apakah itu muda atau tua, pergi ke masjid di siang hari, dan kembali ke rumah untuk meneruskan pekerjaan mereka, atau bekerja di rumah di sore hari.” Di Maldives, “raja, para pejabat tinggi dan rakyatnya semuanya Muslim. Masyarakatnya harmonis, dan semua orang berperilaku menurut doktrin Islam.” Di Zufal, “Kaisar dan pengikutnya adalah Muslim. Ketika mereka bersembahyang, mereka menghentikan pekerjaan mereka dan pergi ke masjid. Mereka semua mengatur perkawinan dan penguburan mereka berdasarkan aturan Islam.” Di Aden, “seluruh negara ini adalah Muslim.” Di Bangladesh, “semua orang memeluk agama Islam, raja dan para pejabat tingginya juga sama.” Di Hormuz, “raja dan rakyatnya percaya pada Islam. Mereka adalah Muslim yang taat, bersembahyang lima kali dalam sehari. Mereka juga berpuasa dan mandi,” Di Mekah, “semua memeluk Islam. Orang suci Islam memulai kotbahnya di negara ini, oleh karena itu orang-orang di sini taat kepada aturan Islam dan tidak berani melanggarnya.” Ada banyak contoh-contoh yang lain. Walaupun begitu, mengapa Ma Huan memandang rendah aktifitas Cheng Ho yang terkait dalam penyebaran Islam? Yang pertama, ini karena, seperti yang disebutkan di atas, ekspedisi Cheng Ho utamanya adalah untuk “memperkenalkan kebaikan dan moralitas untuk mempromosikan hubungan yang harmonis dengan negara lain”, jadi untuk menciptakan lingkungan dan perdagangan internasional yang damai satu sama lainya. Ekspedisi ini tidak pernah dirancang untuk memperluas Islam. Oleh karena itu Ma Huan mencatat pencapaian Cheng Ho dari misinya dan situasi sosial di negera-negara berbeda sementara itu secara sengaja ataupu tidak disengaja meninggalkan hal tentang aktifitas Cheng Ho diluar kewajibanya tidak tercatat, hal ini dapat dimengerti. Karena pemerintahan Ming memeluk agama Budha, para pejabat tinggi dan orang-orangnya memandang rendah Cheng Ho, yang merupakan seorang kasim (tidak bisa mendapatkan keturunan), dan apabila kegiatan religius Cheng Ho di luar negeri mungkin membantunya dalam melaksanakan misinya di Asia Tenggara, para pejabat tinggi dan orang-orangnya ini tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang penting. Oleh karena itu, di arsip-arsip kuno Cina, tidak ada kata-kata yang menyebutkan bahwa Cheng Ho menyebarkan Islam di Asia Tenggara.


Kurang bahan-bahan dokumentasi mungkun juga ada hubungannya dengan kekhawatiran Cheng Ho sendiri. Pada saat itu, walaupun kaisar mengadopsi kebijakan yang mengakomodasi Muslim, dia juga memberlakukan beberapa pembatasan. Contohnya, Muslim dilarang untuk memakai pakaian Hu, berbicara dengan bahasa Hu, atau mempunyai nama-nama Hu, (Hu adalah suku minoritas (kebanyakan dari mereka adalah Muslim) tinggal di daerah perbatasan barat laut Cina). Dengan tidak menunjukkan identitas Islam mereka, banyak jenderal dan pejabat tinggi memilih untuk memakai nama-nama Han, walaupun mereka membangun masjid-masjid, mereka harus melakukannya atas nama “pemberkahan panjang umur”, yaitu membangun masjid-masjid sebagai tempat-tempat untuk mendoakan kaisar berumur panjang”. Ini adalah contoh yang lain. Quangzhou, adalah tempat-tempat di mana Islam pertama kali berkembang dengan sendirinya di Cina, menyaksikan menjamurnya Islam di Dinasti Song dan Yuan, dan pada saat yang bersamaan, “sepuluh ribu” Muslim dari Arab dan Persia bergabung di sana. Tetapi antara Dinasti Yuang dan di masa awal Dinasti Ming, ada dua gerakan “anti Muslim”. Menurut Garis keturunag dari Jins di Wenling (The Genealogy of the Jins in Wenling), “dalam kekacauan itu, semua orang dari perbatasan barat dibunuh.” Untuk menyelamatkan diri dari pembunuhan tersebut, beberapa Muslim berlayar ke negara-negara asing, beberapa orang melarikan diri kedaerah-daerah terpencil seperti wilayah pegunungan dan pantai-pantai. Beberapa di antara mereka mengubah nama keluarga mereka dan meninggalkan agama Islam mereka.60 Sangatlah tidak mungkin bagi Cheng Ho, yang seorang Muslim untuk tidak menghiraukan masalah ini.


Seorang peneliti berargumentasi bahwa kakek dan ayah Cheng Ho yang keduanya adalah Haji yang telah melaksanakan ibadah haji ke Mekah, oleh karena itu mereka pasti merupakan Muslim yang dihormati di dalam komunitas lokal mereka. Ayah Cheng Ho meninggal di tahun 1382, ketika pasukan Ming mengalahkan tentara lokal di Provinsi Yunnan. Ketika dia meninggal di hanya berusia 38 tahun, terlalu muda untuk meninggal secara alami. Cheng Ho ditangkap dan diadili ketika dia masih berumur 11 tahun dan direndahkan menjadi seorang kasim. Para peneliti berpendapat, bahwa walaupun Cheng Ho dikemudian hari dihargai dan dipercayai oleh kaisar, dia, dengan latar belakang keluarga yang seperti ini, masih mempunyai rasa kekhawatiran dalam permasalahan agama Islam kepercayaannya.61 Dia juga mengutip beberapa kejadian bersejarah, salah satunya adalah ketika Cheng Ho menulis di batu nisan ayahnya sebelum ekspedisinya yang pertama, dia memanggil kepada ayah dan kakeknya sebagai Ma Hajj dari pada nama asli mereka. Ini menunjukkan bahwa “Cheng Ho pasti telah menyembunyikan dan menutupi kepedihan tentang keluarganya dan agamanya. Kemudian, menjadi lebih menyakinkan lagi bahwa Cheng Ho tidak ingin menunjuk secara umum aktifitasnya dalam penyebaran Islam di luar negeri.” Ini hanya karena “para sejarawan pemerintah tidak menghormati dan keraguan Cheng Ho untuk meremahkan kekhawatiran pribadinya”, sejumlah bahan-bahan yang relevan telah ditinggalkan. Dalam pandangan penulis, ini mungkin salah satu dari alasan-alasan, dan dapat diambil sebagai referensi.


Alasan lainya adalah bahwa keberadaan catatan dari luar negeri tentang penyebaran agama oleh Cheng Ho memerlukan bukti-bukti lebih yang mendukung.


Contohnya, seperti yang disebutkan di atas, di tahun 1413, Cheng Ho, Ma Huan dan Fei Xin sering mengunjungi masjid yang di Semarang dan bersembahyang di sana. Mereka yang bersembahyang di masjid pastilah seorang Muslim, tetapi apakah Fei Xin benar-benar seorang Muslim? Beberapa peneliti berpendapat bahwa “keduanya Ma dan Fei adalah Muslim,”62 atau bahwa Fei Xin percaya dalam Islam.”63 Walaupun begitu tidak ada arsip kuno Cina yang membuktikan tentang identitas Islam dari Fei Xin. Terlebih lagi setelah membandingkan Perjalanan di Asia Tenggara yang ditulis oleh Ma Huan dan Jalan ke Asia Tenggara yang ditulis oleh Fei Xin, penulis menemukan bahwa Ma Huan sangat tersentuh oleh “Islam dan Muslim” di daerah-daerah seperti Jawa, Malaka, Lambri, Calicut, Maldives, Aden, Hormuz dan Mekah, sementara itu Fei Xin, ketika memberikan narasi tentang negara-negara ini, tidak menyebutkan apapun tentang Islam, walaupun ketika dia menggambarkan tentang tempat suci Mekah, dia hanya menuliskan bahwa “Ada masjid-masjid. Pemimpin dan rakyatnya adalah orang yang taat beragama.” Sangat jelas bahwa Fei Xin tidak tertarik dan tidak familiar dengan Islam dan Muslim. Oleh karena itu penuh meragukan apakah Fei Xin pernah bersembahyang di masjid, dan berpendapat bahwa identitas Islam Fei Xin, seperti yang telah dipercayai sebelumnya, tidak meyakinkan. Sampai saat ini, masih ada beberapa peneliti asing yang menyebut Fei Xin “Haji”,64 yang dalam pandangan saya tidak beralasan.


Contoh yang lain di sini. Seperti yang dikutip di atas dari Amen Budiman, ketika Cheng Ho berlayar di sepanjang pantai utara pulau Jawa, Wong Jinghong tiba-tiba jatuh sakit dan tidak dapat meneruskan pelayaran dengan Cheng Ho. Dia tinggal mengajari penduduk setempat dan pendatang Cina untuk bercocok tanam dan melakukan bisnis, dan berkotbah kepada mereka pada saat yang bersamaan. Kemudian dia menetap di Semarang. Tetapi apakah Wang seorang Muslim? Apakah dia benar-benar menyebarkan Islam di Jawa? Apakah ini benar-benar merupakan fakta sejarah bahwa “dia bermukim di Semarang sampai dia meninggal?”. Tidak catatan yang relevan di Cina, karena itu perlu pembuktian lebih lanjut. Beberapa peneliti asing berpendapat bahwa Wang ditinggalkan di Semarang dalam ekspedisi ke lime, dan bermukim di sana, menyebarkan Islam, sampai dia meninggal di umur 78.65 Ini juga tidak sesuai dengan sejarah, karena di mengunjungi Malaka di tahun 1434.


Selain itu, ini adalah contoh yang ketiga. Seperti yang dikutip dari tulisan Wang Juesheng tentang kunjungan Cheng Ho ke Makasar di Sulawesi, dia “menganugerahi gelar raja kepada pemimpin penduduk setempat yang telah merubah agamanya dari Budha ke Islam.” Kemudian, ini memberikan gambaran bagi para pembaca bahwa perubahan agama di Makasar ada hubungannya dengan Cheng Ho. Walaupun begitu tidak ada catatan sejarah tentang kunjungan Cheng Ho di Sulawesi yang telah ditemukan. Beberapa peneliti bahkan mempunyai pandangan yang bertentangan dengan ini. Contohnya, B. W. Andaya, seorang peneliti New Zealand, dan Ishii Yeneo, seorang peneliti Jepang menunjukkan bahwa “sampai abad 17, kerajaan Makasar masih merupakan kerajaan baru yang belum beragama Islam.”66 Oleh karena itu narasi Wang Juesheng ditidak dapat dipercaya.


Kemudian, kebanyakan catatan tentang aktifitas keagamaan Cheng Ho hanya berupa legenda atau catatan sejarah yang tertutup, kurang bukti-bukti menyakinkan yang mendukung. Banyak bahan-bahan tentang hubungan antara Cheng Ho dan Muslim Cina yang membantu penyebaran Islam di Jawa “masih merupakan kontroversi.”


Alasan ketiga adalah pembatasan pemerintah-pemerintah lokal pada penelitian seperti ini.


Contohnya, kolonialis Belanda, yang menguasai Indonesia selama sekitar tiga abad, tidak hanya mengadopsi kebijakan hirarki suku-suku, tetapi juga menyebarkan hirarki keagamaan. Ini adalah karena Kristiani, yang mereka percayai, sebagai sebuah agama yang tinggi dan Islam yang diikuti oleh kebanyakan penduduk Indonesia, adalah “agama dari negara-negara yang lebih rendah.”67 Terlebih lagi, mereka mencoba untuk menghalangi orang Cina lokal untuk memeluk agama Islam,68 dan memandag rendah bahkan tidak mengakui kontribusi dalam penyebaran Islam di Indonesia yang dilakukan oleh orang-orang Cina, seperti Cheng Ho.


Di tahun 1926, pemberontakan anti-Belanda yang dipimpin oleh Partai Komunis Indonsia dapat ditekan secara brutal. Kemudian di tahun 1926, Poortman, seorang gubernur Belanda di Jawa Tengah, memeriksa secara teliti candi-candi Cheng Ho di Semarang dan Cirebon untuk mencari para komunis. Hal ini dilaporkan Poortman bahwa dia menemukan banyak bahan-bahan dalam bahasa Melayu dan Cina tentang pentingnya peranan Cina dalam kehidupan sosial dan Islami di Jawa termasuk tentang Cheng Ho dan pasukannya. Jika informasi ini dipublikasikan secara umum, hasil-hasil yang telah dicapai oleh orang-orang Cina mungkin akan menimbulkan reaksi yang kuat bagi kalangan Islam lokal, oleh karena itu Poortman meminta pemerintahan kolonial Belanda untuk menyimpan temuannya ini sebagai informasi di dalam. Karena keahlian Poortman yang pandai dalam bahasa Cina, dia menterjemahkan bahan-bahan Cina ini ke dalam bahasa Belanda.69 Hanya ada lima kopi dari laporan penelitiannya, utamanya untuk perdana menteri Belanda, para pejabat tinggi di koloni dan gubernur jenderal Belanda di Hindia Belanda (wilayah Indonesia). Parlindungan, penulis dari Tuanku Rao, adalah anak dari seorang aristokrat dan seorang pejabat dalam pemerintahan kolonial Belanda. Dia sangat menghargai Poortman, dan selama studinya lebih mendalam di Holland Technical School, dia cukup beruntung untuk dapat membaca laporan-laporan rahasia ini. Di tahun 1951, setelah kematian Poortman, Parlindungan mendapatkan sebuah kopi dari laporan penelitiannya, dan dia juga memasukkan beberapa informasi rahasia dalam Annuals sebagai lampiran dalam Tuanku Rao. Walaupun begitu, karena kekhawatiran yang sama tentang reaksi keras dari kalangan Islam lokal, setelah Suharto mendapatkan kekuasaan politik, pemerintah Indonesia melarang buku Tuanku Rao. Slamet Muljana, bekas dekan dari Departmen Literatur di Universitas Indonesia adalah siswa dari Parlindungan, melihat bahan-bahan rahasia tersebut di rumah gurunya. Kemudian di tahun 1968, Slamet Muljana menerbitkan karyanya Runtuhnja Keradjaan-Keradjaan Hindu Jawa dan Timbulnja Negara-Negara Islam di Nusantara, di sini dia mengutip dan mengakui kebenaran dari Annuals, lampiran dari Tuanku Rao. Sebagai akibatnya, buku ini juga dilarang oleh pemerintahan Suharto di tahun 1971. Setelah itu, Slamet Muljana menterjemahkan buku ini dalam bahasa Inggris dengan judul A Story of Madjapahit dan menerbitkannya di Singapura. Dalam jangka waktu yang lama, karena ketatnya pengawasan yang diperlakukan pemerintah, para peneliti lokal telah menjauhi penelitian tentang peranan Cina lokal dan Cheng Ho dalam perkembangan Islam di Indonesia.


Yang perlu disebutkan adalah, untuk alasan yang bermacam-macam, hasil-hasil yang telah dibuat oleh orang-orang Cina (termasuk Cheng Ho) dan kalangan Cina perantauan di Asia Tenggara tidak mendapatkan perhatian dari para peneliti di negara-negara barat maupun selatan. Hanya Claudine Salmon, seorang peneliti Perancis, menyebutkan dalan bukunya “The Contributions of Chinese to the Development of Southeast Asia: A Renewed Evaluation” (Kontribusi Cina dalam perkembangan Asia Tenggara: Sebuah Evaluasi yang diperbaharui), “sampai saat ini banyak dokumen tentang seorang Cina yang sering muncul dalam catatan-catatan sejarah di berbagai wilayah berbeda tidak dihiraukan sama sekali, dan ini juga terjadi di Indonesia, di mana banyak bahan tentang peranan Cina di masyarakat daerah pantai Jawa tetap tidak dipergunakan.”70 Ini adalah Annuals, lampiran dari Tuanku Rao, yang berisikan tentang bagian terpenting dari catatan sejarah dari Semarang dan Cirebon, dan Annuals juga mempunyai catatan tentang kotbah yang dilakukan Cheng Ho dan orang-orang Cina Muslim lainnya di bagian utara Jawa.


Para peneliti asing paling banyak mengutip dari Annuals ketika mereka menyentuh permasalahan kotbah Cheng Ho di Asia Tenggara, khususnya di Indonesia. Lampiran ini berdasarkan bahan-bahan yang ditemukan dalam candi Cheng Ho di Semarang dan laporan penelitian Poortman. Walaupun begitu, Annuals hanya diedit dari bahan asli yang saat ini tidak dapat ditemukan di manapun. Seberapa besar dokumen ini memberikan keterangan tentang kotbah Cheng Ho di Jawa masih belum diketahui. Bahkan tentang apakah Poortman telah membuat laporan penelitian atau tidak telah menjadi pusat kontroversi di antara peneliti Indonesia sejak tahun 1969. Liem Eh Hian, berdasarkan dari berbagai sumber informasi, pernah menuliskan bahwa tidak mungkin menemukan dokumen-dokumen ini dalam candi Cheng Ho di Semarang. Dia juga menunjukkan beberapa peneliti Belanda kontemporer yang terkenal telah menemukn bahwa tidak ada hubungan antara laporan-laporan penelitian Poortman di arsip-arsip atau perpustakan di Holland.71 Dan di tahun 1986, ketika penulis sedang di Holland sebagai peneliti tamu, dia juga telah mencoba untuk menemukan bahan-bahan yang disebutkan di atas, tetapi tidak berhasil. Semua ini telah menyebabkan kesulitan besar untuk menverifikasi dengan bukti sejarah yang kuat tentang keaslian apa yang telah ditulis dalam Tuanku Rao dan lampiranya, Annuals.


Disamping ketiga alasan yang disebuttkan di atas, berkurangnya pengaruh dari kotbah Cheng Ho do Asia Tenggara juga bisa menjadi faktor yang menyebabkan hilangan bahan-bahan terkait. Setelah ekspedisi-ekspedisi, penguasa Cina secara mendadak menghentikan petualangan besar dan hal ini berlangsung selama ratusan tahun. Di Jawa dan banyak tempat lainnya, sekolah Hanafiyah, yang diperkenalkan oleh Cheng Ho, secara virtual kehilangan kontak dengan rekan-rekan yang Cina, dan sebagai akibatnya, semakin banyak penduduk lokal dam Muslims mengikuti sekolah Safiiyah. Selanjutnya banyak orang Cina yang bermigrasi ke wilayah Indonesia di akhir abad 19, kebanyakan memeluk agama Budha, Taoisme dan Lamaisme. Dan Masjid di Semarang yang dibangun oleh Cheng Ho di tahun 1411 kemudian dirubah menjadi candi Cheng Ho antara tahun 1450 dan 1475. Menurut perhitungan penulis, paling sedikit ada tujuh candi di Indonesia yang mempunyai hubungan dengan Cheng Ho.72 Kecuali masjid Cheng Ho Surabaya yang dibangun tahun 2002, keenam lainya dibangun jauh lebih awal, dengan mengidolakan Cheng Ho atau pengikutnya, atau “barang peninggalan” mereka ada di sana. Dan yang pasti keenam candi tersebut bukanlah masjid, karena “Idol” atau patung berhala tidak boleh ditempatkan di masjid. Akibatnya karena rumitnya dampak dari Cheng Ho dalam Islam di Indonesia, para peneliti menghindari penelitian yang lebih mendalam tentang isu-isu ini.


Banyak peneliti memakai Indonesia sebagai basis dimana mereka telah membangun argumen mereka tentang pengaruh Cheng Ho dalam Islam di Asia Tenggara. Salah satunya adalah Slamet Muljaya, yang berpendapat bahwa Cheng Ho telah membangun komunitas Muslim Cina di Kukang di Sumatera, Sambas di Kalimantan dan di Jawa, dan mereka berkotbah kepada masyarakat setempat dalam bahasa Cina menurut doktrin-doktrin dan aturan Islami. Junus Jahja, ketika memberikan komentar tentang isu ini berkata, banyak ahli tentang Cina tidak familiar dengan Islam sementara itu banyak ahli Islam tetapi tidak pandai dalam berbahasa Cina.”73 Ini juga dapat menjadi salah satu alasan dibalik penelitian yang kurang memuaskan tentang peranan Cheng Ho dalam perkembangan Islam di Asia Tenggara.


Walaupun begitu, sudah menjadi pengetahuan umum bahwa apa yang benar-benar terjadi dalam sejarah tidak dapat ditolak atau tidak dihiraukan hanya karena hal ini tidak didokumentasikan dalam arsip-arsip di Cina. Dan kemungkinan, untuk berbagai alasan, sesuatu telah secara disengaja ataupun tidak disengaja ditinggalkan atau tidak di catat. Mungkin saja sejumlah besar dari dokumen tentang ekspedisi Cheng Ho telah dirusak karena beberapa alasan dalam sejarah, dan mungkin juga beberapa di antaranya telah dibawa ke negara lain. Untuk dokumen-dokumen asing atau bahan referensi, kita harus dalam menganalisa dan mengkoleksina, karena hal ini untuk bisa memutuskan mana yang benar dan mana yang salah. Tetapi perkembangan sampai saat ini masih belum memuaskan karena banyak faktor. 



Perkembangan baru dan prospek akhir-akhir ini untuk penelitian tentang hubungan antara Cheng Ho dan Islam di Asia Tenggara


Dalam dua puluh tahun terakhir, media massa Indonesia telah memuat semakin banyak artikel yang memperingati tentang kunjungan Cheng Ho ke Jawa dan banyak tempat lainnya dan peranannya dalam penyebaran Islam. Di tahun 1985, sekelompok mahasiswa mempelajari bahasa Cina di Universitas Indonesia, dipimpin oleh dosen mereka, melakukan penyelidikan lapangan ke tempat-tepat peninggalan sejarah yang ditinggalkan Cheng Ho di Jawa, dan menyelesaikan sebuah laporan yang cukup terinci. Slamet Muljaya, seorang peneliti Indonesia terkenal, juga melakukan perbandingan antara bagian terkait dalam Tuanku Rao, Pararaton dan  Babad Tanah Jawi, kedua buku terakhir adalah catatan kuno tentang Jawa dan menemukan bahwa apa yang telah didokumentasikan dalam ketiga buku tersebut saling berhubungan dari satu dengan lainnya dalam banyak bagian.74 Dua peneliti Belanda yang ahi dalam bidang studi Indonesia juga menyebutkannya; mereka adalah H. J. de Graff dan Th. Pigeaud. Dalam De Eerste Mioslime Vorstendammen op Java, yang ditulis bersama oleh keduanya di tahun 1974, mereka sama sekali tidak menunjukkan ketertarikannya kepada Annuals. Walaupun begitu ketika mereka menjadi meragukan kebiasan mereka, dan melakukan penetian kembali catatan-catatannya, mereka mulai menyadari nilai-nilainya. Sayang di tahun 1983, mereka sudah terlalu tua dan lemah untuk menyelesaikan karya baru mereka Chinese Muslims in Java in the 15th and 16th Century. Di kemudian hari buku ini diselesaikan oleh M. C. Ricklefs, dan diterbitkan oleh Monash University, Australia di tahun 1984. Dan terjemahannya dalam bahasa Indonesia juga muncul di tahun 1998, dengan judul Muslim CIna di Jawa di Abad 15 dan 16: Sejarah dan Mitos.


Di tahun 1998, setelah bergulingnya pemerintahan Suharto, banyak hal terlarang dalam penelitian akademis dibuka untuk diskusi. Di tahun 2003, seorang peneliti Indonesia Sumanto dan Xu Tiantang menerbitkan buku mereka yang berjudul Arus: Cina-Islam-Jawa dan Tionghoa Dalam Pusaran Politik di Jakarta, yang secara umum menggambarkan aktifitas Cheng Ho yang berhubungan dengan penyebaran Islam di Asia Tenggara, khusunya di Jawa. Buku-buku ini secara berulang-ulang mengutip dari Tuanku Rao dan lampirannya, Annuals. Chen Dasheng pernah mengatakan bahwa dalam kalimat singkat, sejumlah dialek Fujian dan banyak suku kata tunggal seperti Kun Ta Bu Mi, Pa Bu Ta La, and Muk Ming, dan bukan suku kata banyak dalam bahasa Indonesia dapat mendemonstrasikan secara baik versi lamanya yang mungkin merupakan catatan dari bahasa Cina oral, dan hal ini karena di abad 18 dimana para Cina lokal mulai menterjemahkan dan mencatatmya dalam bahasa Melayu. Dan di abad 20, Poortman dan Parlindungan mengeditnya dengan menghilangkan sesuatu yang tidak penting dan menambah hal-hal yang penting, khususnya Parlindungan menambahkan beberapa kasus tentang Indonesia di bawah penguasaan Jepang di tahun 1940-an.75 Walaupun begitu, itulah situasi Muslim Cina yang tinggal antara tahun 1411 dan 1564 dan peranan yang dimainkan oleh Cheng Ho dalam pengembangan Islam di Jawa yang menjadi focus di Annuals. Pada acara peringatan ulang tahun ke 600 peluncuran ekspedisi Cheng Ho, Sinar Harapan, sebuah koran Indonesia, pada tanggal 23 April 2005, memuat artikel yang berjudul “Memperingati kunjungan-kunjungan Jenderal Cheng Ho” menyatakan bahwa Cheng Ho pernah berkotbah di Semarang dan di bagian utara pulau Jawa dalam edisinya.


Penjelasan dan penambahan yang dilakukan oleh de Graff dan Pigeaud juga sangatlah penting. Mereka menuliskan bahwa Annuals pertama kali dicatat dalam bahasa Cina dan penterjemah pada bagian Semarang adalah seorang Muslim Cina yang tinggal di Semarang pada pertengahan pertama abad 18, dan dia juga yang menterjemahkan kebanyakan dokumen-dokumen Cina ke dalam bahasa Jawa (Melayu ditulis dalam huruf Arab). Dan Poortman, seorang pejabat Belanda, adalah penterjemah kedua dan editor yang mempunyai kontribusi besar dalam menggabungkannya dengan kalender Eropa dalam menyusun kembali buku ini. Kemuadian, Parlindungan tidak bisa diragukan lagi merupakan penterjemah ketiga dan editor yang menggunakan bahasa Melayu untuk menterjemahkannya. Sebagai tambahan, seorang pemimpin komunitas Cina di Champa, Sumatera, pernah mengirimkan sebuah buku ke Poortman yang berjudul Moa Tsai Pi Tjing Wong yang merupakan laporan yang dibuat oleh Ma Yuang Long. Gambaran-gambaran dari buku ini yang selanjutnya memperkaya Annuals, Ma Yung Long adalah saudara laki-laki dari Ma Hong Fu, yang merupakan utusan Muslim Cina ke Majapahit antara tahun 1424 dan 1449, dan merupakan anak menantu dari Bong Tak Keen. Walaupun ada beberapa kejanggalan dalam Annuals, “tidak beralasan untuk mengatakan bahwa perkembangan komunitas Cina di Jawa secara sengaja dibuat-buat dan dibesar-besarkan”. Sementara itu dua peneliti menunjukkan bahwa tidak benar untuk menganggap hasil-hasil yang dicapai oleh pengikut Hanafiyah di propinsi Yunan merupakan kunci dari pengembangan Islam di Jawa.76 Kenyataannya, bahwa sejak tahun 1379, Maulana Malik Ibrahim, seorang Muslim yang lahir di Gujarat, India, datang untuk menyiarkan doktrin Islam, dan membuat Gresik di Jawa Timur sebagai pusat kegiatan religinya. Dia juga merupakan salah seorang dari ke sembilan orang suci dan meninggal di tahun 1419.77


Cheng Ho memulai ekspedisinya yang pertama di tahun 1405. Tak lama setelah itu, banyak utusan dikirim ke Cina dari Jawa, Sumatera, yang kebanyakan dari mereka adalah Muslim. Kemudian Haji Mahmud dan Ali Chang Fonama yang dikirim ke Cina dari Kukang masing-masing di tahun 1406 dan 1425 keduanya juga Muslims.78 Menuruk Catatan Dari Dinasti Ming, antara tahun 1413 dan 1438, banyak utusan Muslim dikirim ke Cina dari Jawa seperti, Ali Sulaiman, Ali Mahmud, Ali Koua dan banyak lainnya.79 Hal ini tidak hanya merefleksikan bahwa Islam di Asia Tenggara telah menikmati perkembangan dan Muslim telah mulai terlibat dalam urusan negara tetapi juga menunjukkan sebagai hal yang sangat penting antara orang-orang Cina dan Muslim Indonesia. Dan bukan merupakan kebetulan jika Muslim Cina yang kirim sebagai utusan oleh raja Jawa selama ekspedisi Cheng Ho dan lima tahun setelah kematiannya dan ini menunjukkan bahwa Muslim Cina telah lama di Jawa dan Islam juga telah berkembang dalam waktu yang cukup lama, karena seperti yang disebutkan sebelumnya bahwa jauh sebelum kedatanga Cheng Ho ke Jawa, telah ada sejumlah Muslim Cina di sana. Benar bila banyak bahan yang dikumpulkan dari luar negeri menunjukkan ke Cheng Ho dalam pembangunan Islam dan juga komunitas Muslim Cina di Jawa, tetapi tidak adil kalau kita katakana Cheng Ho adalah kontributor satu-satunya dalam pembangunan ini.


Sedangkan untuk kredibilitas Annuals, de Graff dan Pigeaud menyatakan dalam pembukaan dari bukunya Chinese Muslims on Java in the 15th and 16th Centuries: History and Myths, bahwa jika seperti yang dikatakan Parlindungan, Annuals diselesaikan di abad 16 (Annuals mencatat sejarah antara tahun 1403 dan1585), sangatlah mustahil kalau dokumen tentang Semarang dan Tjirebon masih dalam keadaan utuh, mengingat telah 400 tahun berada dalam cuaca yang panas dan lembab dan melewati sejumlah peperangan dan gejolak politik. Walaupun begitu, Parlindungan berpendapat bahwa dokumen-dokumen yang disebutkan di atas muncul di pertengahan abad 18. Antara 1740 dan 1742, seorang pemberontak melawan kolonialisme Belanda yang dipimpin oleh seorang keturunan Cina terjadi, dan seorang keturunan Cina yang bernama Sunan Kuning mendapatkan kekuasaan sebagai penguasa di pantai utara dan wilayah pedalaman Jawa. (Menurut halaman 77 dari Runtuhja Keradjaan-Keradjaan Hindu Djawa Dan Timbulnja Negara-Negara Islam Di Nusantara oleh Slamet Muljana, nama penguasa itu adalah Njoo Lay Wa) Dia kemudian dalam waktu singkat digulingkan oleh raja Jawa dan pasukan dari Madura. Kemudian, seorang Cina yang bertugas sebagai pejabat di Semarang menghubungkan kejadian yang disebutkan di atas dengan kepahlawanan Muslim Cina dalam peperangan melawan Majapahit yang tidak beragama dan memperjuangkan Islam di Jawa. Di tahun 1740-an, dia mengumpulkan dokumen-dokumen dan catatan yang aslinya disimpan oleh Asosiasi dari Pembuat Kapal Muslim.


Muslim Cina ini mungkin telah menjadi penterjemah dan editor pertama dari dokumen-dokumen yang ditemukan dalam beberapa dekade pertama dari abad 20, dan dia juga yang telah menterjemahkan banyak dokumen Cina ke bahasa Jawi. Dia telah lama tinggal di Semarang dan sangat hafal dengan sejarah lokal di pertengahan pertama abad 18. Tidaklah mengherankan bila dia telah membesar-besarkan dampak budaya dan politik Cina di Jawa bila dia telah dibesarkan dalam budaya Cina. Poortman, seorang pejabat pemerintahan kolonial Belanda, pasti merupakan editor kedua, yang mempunyai kontribusi besar dalam memperkenalkan kalender Eropa kedalam penyusunan kembali Annuals.80 Kemudian, Parlindungan, tentunya sebagai editor ketiga. Jika informasi yang disebutkan di atas benar dan jika Annuals “mungkin aslinya dari versi bahasa oral Cina”, dan telah secara berulang-ulang disusun kembali dan diterjemahkan, kita harus mempelajari dokumen tersebut dan menilai mana yang merupakan kata-kata asli dan mana yang telah ditambahkan oleh para penterjemah dan editornya, dan mana yang merupakan fakta sejarah dan mana yang merupakan karangan. Contohnya, dalam Annuals, Cheng Ho dipanggil sebagi Haji, yang mengindikasikan dia telah melakukan perjalanan ke Mekah adalah tanpa bukti. Ketika hasil-hasil yang dicapai Cheng Ho dalam menyebarkan Islam di Jawa dievaluasi, tidak ada penolakan subyektif dan pembesar-besaran fakta yang diperbolehkan. Penelitian tentang ini harus berdasarkan fakta-fakta yang meyakinkan dan alasan yang ketat, tidak hanya karena studi sejarah menekankan pada fakta-fakta dan kenyataan, tetapi juga karena isu-isu Islam di negara seperti Indonesia ini adalah topik yang sensitive dimana populasi mayoritasnya adalah Muslim.


Para peneliti asing juga menyebutkan hubungan antara ekspedisi Cheng Ho dan Muslim di Asia Tenggara. Contohnya, Terada Takanobu, seorang peneliti Jepang yang menuliskan, “Ekspedisi-ekspedisi Cheng Ho dapat dianggap sebagai usaha Islam yang sangat mengagumkan yang dilakukan oleh orang Muslim Cina sebagai bintang pemimpin da Muslim di Asia Tenggara, India dan Asia Barat sebagai kelompok pendukungnya.”81 Hal yang dapat dipercaya bahwa Cheng Ho dan banyak Muslim lain dalam pasukan tersebut telah melakukan kontak dengan Muslim lokal di Asia Tenggara. Walaupun begitu, tidak tepat untuk dikatakan bahw ekspedisi Cheng Ho adalah sebuah “tindakkan Islami”, karena dia dikirim oleh keputusan dari Dinasti Ming. Dan benar seperti yang disebutkan sebelunya, ada sejumlah orang Muslim dalam pasukan itu. Walaupun begitu, kalimat “usaha Islam yang sangat mengagumkan yang dilakukan oleh orang Muslim Cina sebagai bintang pemimpin da Muslim di Asia Tenggara, India dan Asia Barat sebagai kelompok pendukungnya” masih memerlukan diskusi yang lebih lanjut.


Kesimpulan


Alasan utama kurang dokumen dan catatan yang meyakinkan tentang penyiaran Islam Cheng Ho di Asia Tenggara adalah karena hal ini bukan merupakan misi yang akan dilakukan dalam ekspedisinya. Walaupun begitu, ada banyak catatan dan cerita mengenai hal tersebuth di negara-negara lain, dan yang paling penting adalah dalam Tuanku Rao dengan lampiranya, Annuals oleh Mangaradja Onggang Parlindungan. Walaupun kekurangan dalam bukti-bukti pendukung yang meyakinkan, Annuals paling tidak memberikan petunjuk penting, seperti kunjungan yang sering dilakukan oleh Cheng Ho, Ma Huan and Fei Xin ke masjid di Semarang; banyak komunitas Muslim Cina yang telah dibangun dengan usaha-usaha Cheng Ho, Cheng Ho menggunakan jaringan Muslim Cina (khususnya pengikut Hanafiyah dari Propinsi Yunan) untuk menyebarkan Islam; sekolah Hanafiyah dalam komunitas Muslim Cina mengalami penurunan yang sangat mencolok setelah kematian Cheng Ho, khususnya antara tahun 1450 dan 1475, sementara itu beberapa orang Cina mengikuti penduduk setempat dan menjadi pengikut Shafiiyah; beberapa Muslim Cina menggunakan bahasa setempat dari pada menggunakan bahasa Cina dalam berkotbah. Banyak peneliti dan professor tentang Islam menganggap hal ini sangat penting, dan menemukan beberapa kesamaan antara Annuals dengan catatan kuno lainnya tentang Jawa.


Dengan mempertimbangkan bahwa Cheng Ho yang lahir dalam keluarga Muslim terlibat dalam sejumlah aktifitas Islami domestik, sangatlah mungkin bahwa dia akan melakukan hal yang sama di negara-negara asing setelah dia menyelesaikan misi resminya. Ekspedisi Cheng Ho dimulai pada periode transisi di sejumlah bagian wilayah Asia Tenggara, ketika Budhis sedikit demi sedikit dikalahkan oleh Islam. Kemudian, peran dari Cheng Ho dan teman-temannya dalam pengembangan Islam di Asin Tenggara dapat dilakukan, ini akan terbukti sangat penting. Islam diperkenalkan secara damai bersamaan dengan aktifitas komersial di Asia Tenggara, dan akhirnya dapat membantu untuk mempromosikan pertumbuhan ekonomi komersial.


Benar bahwa walaupun jika Cheng Ho tidak ada hubungannya dengan penyebaran Islam di Asia Tenggara, status dan reputasinya sebagai seorang navigator besar yang utusan perdamaian yang terbaik tidak dapat dipungkiri. Studi tentang hubungan antara Cheng Ho dan Islam di Asia Tenggara dapat menawarkan pandangan dalam ekspedisi Cheng Ho, kususnya perannya dalam pembangunan Islam di Asia Tenggara di abad 15. Ini juga membentuk bagian yang penting dalam pertukaran budaya antara Cina dan Asia Tenggara. Akan sangat berharga bila para peneliti, dari dalam dan luar negeri, dalam melakukan kerja sama dengan lebih baik satu dengan lainnya, membuat usaha yang lebih dalam investigasi dan penelitian mereka, dan diharapkan teka-teki sejarah ini dapat diketahui.



Kyoto Review of Southeast Asia Issue 10 (August 2008)

Kong Yuanzhi [孔远志] adalah Profesor di Universitas Peking.Tulisan ini pertama kali diterbitkan dalam Southeast Asian Studies 2006, no. 1. Diterjemahkan untuk KRSEA olehLiu Kewei.

[Catatan Editor: kutipan dari sumber dalam bahasa Inggris yang diterjemahkan dalam bahasa Cina telah direvisi karena sumber aslinya tidak tersedia. Adanya kutipan-kutipan dalam versi bahasa Cina dalam tulisan ini telah ditandai dalam kutipan, dan semua nomor halaman dari terjemahan bahasa Cina telah dicatat.]

Kyoto Review of Southeast Asia
Issue 10 (August 2008)

© Center for Southeast Asian Studies, Kyoto University

KYOTO REVIEW OF SOUTHEAST ASIA GRATEFULLY ACKNOWLEDGES THE SUPPORT OF THE TOYOTA FOUNDATION.

Designed and developed by SQUEAKYSTUDIOS for CSEAS

click to download PDF